Seolah Tahu Akan Meninggal Dunia. Ini Yang Dilakukan Ayahanda Kiki Amalia Sebelum Menghembuskan Nafas Terakhir

Kiki Amalia. Foto/dok

Andi J Mappaile seolah tahu bakal meninggalkan dunia untuk selamanya. Sebelum hembuskan napas terakhir, Andi sempat memeluk Kiki Amalia cukup lama, seolah sebagai tanda perpisahan.
“Pas hari Sabtu papa masih di IGD belum masuk ICU, terus papa lihat aku nangis papa bilang, jangan nangis. Papa pasti sembuh kok, papa bisa melawan cancer ini, papa kuat, terus papa minta dipeluk. Itu yang terakhir papa minta dipeluk lama banget saat itu,” ungkap Kiki saat ditemui di kawasan Menteng Pulo, Jakarta Selatan, Rabu (2/5).

Tak hanya pelukan, ayah Kiki juga sampaikan pesan terakhir untuk janda cantik itu jika nanti menikah lagi.

Berita Sejenis
1 daripada 4.111

“Papa cuma bilang kalau menikah nanti, papa menunggu laki laki yang tanggung jawab,” kata Kiki.

Ayah Kiki meninggal dunia karena penyakit kanker usus. Kurang lebih setahun belakangan ayah Kiki berjuang melawan penyakit, bahkan segala pengobatan sudah dilakukan.

“Segala macam pengobatan sudah kita lakukan untuk kesembuhan beliau tapi mungkin Allah punya rencana lain. Sebenarnya bolak-balik ke rumah sakit, terus kemo sampai 9 kali. Kadang-kadang drop badannya terus masuk (rumah sakit) lagi,” tutur Kiki.

Ayah Kiki menghembuskan napas terakhir di RSPAD Gatot  Soebroto, setelah sebelumnya sempat menjalani perawatan beberapa hari. Selama itu pula Kiki dan keluarga setia menemani, hingga sang ayah pergi untuk selamanya.

“Kondisi terakhir pas saya datang ke ICU, dokter bilang sama saya butuh ventilator yang dimasukan dari mulut, itu saya masih oke. Tapi setelah siangnya dokter manggil saya, dokter bilang butuh dibelek lehernya untuk tambah pernapasan karena menurun kondisinya dan kalau kelamaan pakai ventilator takut infeksi jadinya minta dibelek,” kata

“Tapi saya terpikir bahwa untuk apa melakukan hal tersebut, untuk menyakiti beliau. Jadi lebih baik diikhlaskan saja kalau memang Allah berkehendak lain nggak apa-apa. Mungkin itu yang terbaik untuknya. Saya nggak membiarkan hal itu terjadi,” lanjutnya.

“Pada saat itu saya diam. Terus dokter bilang sama saya, bapak tiba-tiba sore kondisinya menurun, HB-nya turun-turun terus, saya langsung panggil keluarga saya. Langsung saya pegang tangan papa, kalau memang papa mau pergi saya ikhlas. Kami sekeluarga ikhlas supaya papa nggak sakit lagi. Ya sudah akhirnya papa pegang tangan keluar air mata, terus tiba-tiba pegangan tangannya dilepas gitu. Disitu lah terakhir aku bisa komunikasi sama papa,” tutupnya. O tri

AN