Terungkap, Tergiur Upah 25 Juta, PH Bawa Shabu 2 Kilogram Dari Pekanbaru

Foto press release dan ilustrasi/kolase korankito.com

Palembang-Para pengedar Narkoba masih saja tidak jera, setelah banyak yang tertangkap dan mendapatkan hukuman maksimal, sepertinya masih saja berusaha untuk menyelundupkan Narkoba antar Provinsi.

Seperti pengungkapan kasus penyelundupan 2 kg sabu oleh tersangka PH (33) oleh petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumsel pada 9 April 2018 lalu. Tersangka bersama Barang Bukti (BB) narkoba ini diamankan di salah satu hotel yang ada di Palembang.

Berita Sejenis
1 daripada 4.033

Kepala Bidang Pemberantasan BNNP, AKBP Agung Sugiyono mengungkapkan penangkapan tersangka PH setelah hasil penyelidikan dari laporan yang diterima.

“Tanggal 2 April kami menerima laporan jika akan ada transaksi di salah satu hotel, maka kami segera selidiki dan pada tanggal 9 April akhirnya tersangka PH kami tangkap,” terang Agung dalam press release ungkap kasus narkoba di kantor BNNP Sumsel, Kamis (12/4).

Infornasi yang didapat, tersangka PH diamankan di dalam kamar hotel diwilayah kota Palembang beserta barang bukti berupa 2 kilogram sabu yang di bungkus secara terpisah, 2 unit HP, uang 1 juta rupiah, 1 buah tas dan 1 buah buku tabungan.

Dalam releasenya AKBP Agung menjelaskan tersangka berangkat dari Jakarta menggunakan pesawat ke Pekanbaru, sampai di sana tersangka diberikan sabu oleh temannya berinisial B (DPO) untuk di bawa ke Palembang.

Dari Pekanbaru tersangka PH menggunakan mobil travel ke Palembang melalui jalur Jambi lalu masuk ke hotel yang sudah di rencanakan.

“Tersangka PH ini dijanjikan upah 25 juta rupiah oleh B, tetapi baru diberikan 4 juta untuk uang transportasi,” tambah AKBP Agung .

Data yang didapat, tersangka PH merupakan warga Desa Kecitran Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah, sehari-hari berprofesi sebagai sopir dan berdasarkan pengakuannya aksi ini baru pertama kali ia lakukan.

Tersangka akan dijerat dengan pasal 114 ayat 2 dan 112 ayat dua tentang peredaran narkoba dengan ancaman hukuman minimal 2 tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara atau hukuman mati.(korankito.com/mbam)

AN