Chacha Frederica, Hijab, dan Yerusalem

Foto/dok

Chacha Frederica menceritakan pengalaman mahal sebelum akhirnya mantap berhijab. Diakui artis pintar itu, keinginan memakai hijab sudah ada sejak lama, sekitar tiga tahun lalu. Menariknya, kemantapan hati Chacha memakai hijab bukan terjadi di Tanah Air atau Tanah Suci, melainkan di Yerusalem.
Ingin memakai hijab sejak tiga tahun lalu, lantas mengapa baru sekarang Chacha memutuskannya? Benarkah hatinya bergejolak selama bertahun-tahun karena banyaknya godaan?

“Aku baru ngerasain ya. Maksudnya begini, kalau keinginan itu sudah dari 3 tahun lalu, cuman ada beberapa hal yang tidak memudahkan aku untuk melakukan itu. Kalau orang bilang mungkin gampang, apa sih susahnya? Just do it. Tapi kan yang namanya hidup tidak semudah apa yang kita bicarakan, tidak semudah apa yang kita utarakan, hidup ini sangat complicated, jadi setiap orang punya challenge masing-masing dalam menjalani hidup. Jadi dari 3 tahun lalu sampai detik ini memang ada beberapa hal yang harus akui lalui dulu, sampai akhirnya memutuskan untuk menjadi seperti sekarang,” jelasnya saat ditemui di Lippo Mal Puri, Jakarta Barat, Minggu (1/4).

Berita Sejenis

Dorong Kolaborasi Filantropi di Muba

Najwa Shihab Kirimi Ahok Nasi Kebuli

1 daripada 4.021

Titik balik Chacha adalah saat injakkan kaki di Yerusalem. Kunjungi negara konflik dalam rangka melakukan misi kemanusiaan, siapa sangka Chacha merasakan apa yang dirasakan warga Palestina. Saat itu air matanya mengalir deras, takut saat mendengar suara tembak dan bom, tapi juga tak tega melihat langsung penderitaan warga.

“Kalau pemicu itu, jadi itu sebenarnya banyak. Terutama 3 tahun lalu ketika aku umroh aku merasa, aduh kok aku nyaman ya karena kalau kita umroh jauh lebih tertutup lagi, syar’i. Aku merasa nyaman. Pertama aku merasa nyaman bukan aku di Madinah, tapi di Yerusalem. Pas aku di Palestina, aku merasa nyaman banget, nggak tahu kenapa. Aku merasa punya ikatan batin, punya rasa apa ya istilahnya kayak sedikit merasakan apa yang teman-teman Palestina rasakan. Padahal di sana cuman 3 sampai 4 hari. Pas selesai salat ada tembak-tembakan, aku lari, aku ngerasain begitu. Ya Allah ini cuman 4 hari di situ kerjaannya mau nangis banget. Ternyata apa yang kita lihat di media, ibu-ibu bisa marah sama orang pakai senjata, ternyata mereka sudah bertahun-tahun alami itu. Dan aku merasa nyaman saat itu (berhijab), aku damai sendiri saja pada saat aku di Yerusalem,” ceritanya.

Apa yang dialami Chacha memang bak keajaiban, karena tak semua orang bisa merasakan. Kedepannya, Chacha berharap niatnya berhijrah tetap istiqomah dan membawa kebaikan untuk kehidupan banyak orang.

“Jadi makanya aku selalu bilang dan postingan pertama yang aku tulis, bahwa aku masih belajar, Bismillah. Tapi saya nggak mau dikotak-kotakan. Karena saya nggak mau dengan berpakaian seperti ini terlihat lebih baik, nggak kayak gitu,” tandasnya. O tri

AN