Cukup 20 Tahun, Abdee Slank Mantap Cerai

Abdee Slank. Foto/dok

20 tahun bukan waktu yang sebentar. Selama itu pula, Abdee Slank membina rumah tangga dengan Anita Desy Farida. Waktu lama ternyata bukan jaminan pernikahan suami istri harmonis. Karena Abdee mantap menceraikan istrinya karena sudah tak ada kecocokan lagi.

Untuk pertama kalinya, Abdee akhirnya angkat bicara soal perceraian. Meski tak berhadapan langsung dengan awak media, namun Abdee tuliskan kalimat klarifikasi melalui akun media sosialnya.

Berita Sejenis
1 daripada 4.099

“Pertama-tama saya ingin sampaikan, Anita adalah seorang yang baik dan ibu yang baik bagi Alanis, anak kami tercinta. Gugatan perceraian yang saya ajukan semata-mata karena perbedaan prinsip dan perbedaan pandangan hidup di antara kami berdua yang sangat mendasar dan sudah berlangsung lama. Bukan karena kekurangan atau kesalahan Anita dan bukan pula karena tekanan atau desakan wanita lain, dalam hal ini adalah Tashea seperti yang ramai disebut dalam berbagai pemberitaan,” tulis Abdee.

“Gugatan perceraian yang saya ajukan bulankah hal yang muncul tiba-tiba. Ini adalah ujung dari proses panjang ketidakharmonisan rumah tangga saya dan Anita. Kami coba bertahan demi putri kami Alanis yang sangat kami cintai. Namun permasalahan rumah tangga kami alami memang sangat sulit.

Akhirnya sejak sekitar tahun 2008, kami mulai tidak melakukan hubungan dan berkomunikasi seperti seharusnya suami istri dan yang kemudian berjujung pisah ranjang. Dalam masalah itu, sudah banyak upaya yang kami berdua coba lakukan demi mempertahankan rumah tangga kami. Tapi tetap tidak berhasil. Beberapa kali akhirnya terucap kata cerai,” lanjut Abdee.

“Puncaknya pada tahun 2013, beberapa lama setelah saya divonis gagal ginjal kronik, yang menurut dokter akibat darah tinggi yang memburuk dipicu oleh stres. Saat itu hubungan kami makin tidak harmonis. Jurang perbedaan makin melebar. Akhirnya dengan berat hati, walaupun dalam keadaan sakit, demi kebaikan bersama saya memutuskan untuk berpisah dan memilih hidup sendiri.

Kami tetap terlihat rukun di mata keluarga dan teman-teman. Karena selain setiap Minggu saya berusaha menemui putri saya, setiap acara keluarga, acara teman-teman atau liburan, kami selalu beusaha hadir bersama. Hanya putri kami dan beberapa keluarga dekat saja yang tahu keadaan sebenarnya dan kalau kami sudah pisang rumah,” tulis Abdee.

“Berpura-pura rukun hanya demi mempertahankan status pernikahan ini, tidak membuat hubungan jadi lebih baik. Malah membuat suasana bathin dalam rumah tangga jadi tidak sehat karena memang tidak ada kecocokan lagi di antara kami.

Memaksakan diri untuk tetap bersama hanya berbuah jadi saling melukai dan otomatis berdampak buruk bagi putra kami. Di pertengahan tahun 2016, setahun setengah setelah saya mulai cuci darah akibat penyakit gagal ginjal yang sudah masuk stadium akhir, saya menemui Anita untuk membicarakan perceraian yang resmi secara hukum di pengadilan. Saat itu Anita setuju dengan syarat dia yang akan melakukan gugatan. Namun pada tahun 2017 dia berubah pikitan,” tutup Abdee.

Abdee menekankan bahwa perceraiannya murni karena konflik suami istri, bukan karena orang ketiga. Sementara itu, Anita mengungkap bahwa suaminya berubah karena kehadiran wanita lain. (korankito.com/O tri/mbam)

AN