Lagi! Belasan Anjal Terjaring Razia Gabungan

Belasan Anjal yang terjaring razia gabungan satpol PP dan Dinsos Kota Lubuklinggau, Selasa (20/2). Foto/dhia

LUBUKLINGGAU-Seperti tak kenal jera anak jalanan (anjal) kembali di ciduk satuan gabungan pol pp dan Dinas sosial kota Lubuklinggau. Bahkan ada yang telah berulang kali ditangkap namun mereka masih kembali ke jalanan. Hal ini dibuktikan dengan kembali diamankannya belasan anjal, anak punk dan gelandang pengemis (gepeng) di wilayah jalan protokol dan simpang ‘trafic light’ kota Lubuklinggau.

Kepala Dinas Sosial kota Lubuklinggau, A H Ritonga mengatakan giat rutin yang dilaksanakan pihaknya ini sebagai bentuk tindakan dari program pemberantasan anjal yang marak diwilayah kota Lubuklinggau.

“Sebenarnya mereka ini rata-rata banyak bukan dari Lubuklinggau apa lagi anak punk dapat dipastikan mereka datangan. Seperti 13 orang yang kita amankan hari ini 8 diantaranya bukan dari Lubuklinggau. Sedangkan lima lainya termasuk warga Lubuklinggau, 3 orang anak – anak dan 2 pengemis tua yang sudah sering juga kita amankan,” ungkapnya saat diwawancarai seusai razia anjal, selasa (20/2).

Ritonga menambahkan sanksi yang diberikan sebenarnya telah sesuai aturan, namun masih saja mereka berulah untuk yang kesekian kalinya.

“Untuk yang berdomisili di Lubuklinggau maka kita berikan sanksi pernyataan jangan mengulang lagi dan dilakukan pembinaan di rumah singgah dan panti assyifa sedangkan untuk anak-anak kita panggil orang tua yang bersangkutan. Kalau untuk warga luar Lubuklinggau akan kita kembalikan melalui kerjasama antar dinas sosial di daerah nya,” terangnya.

Sementara itu menurut penuturan anak punk, Rendi (15) warga Megang Sakti Kabupaten Mura mengatakan kalau ia sejak tamat SMP dan tak lagi bersekolah ia memilih hidup untuk menjadi anak punk karena bebas tidak ada yang atur.

“Jalan hidup yang kupilih sesuai dengan kemauan ku, sejak menjadi anak funk hidup pun bebas kemana saja, kadang aku balek kerumah, terkadang juga idak balek samo sekali hingga berbulan lamanya, keseharian kami ngamen, dan tinggal di pelataran toko,” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan pasangan suami istri dari komunitas anak funk Azhar (19) asal Jakarta dan istrinya Desi (18) asal  Bandung, mereka berduapun memilih hidup menjadi anak funk.

“Saya dan istri baru 2 hari di Lubuklinggau dikarenakan mengantar teman ke Palembang dan kemudian mampir ke Lubuklinggau, jadi anak punk dimanapun kita selalu diterima oleh sesama komunitas kita, walaupun tak pernah saling kenal,” pungkasnya. (korankito.com/dhia/mbam)

AN