Dramatis, Baku Tembak dan Ledakan Warnai Simulasi Pengamanan Pilkada di Palembang

foto/depe.

Palembang- Jajaran kepolisian Polresta Palembang dibantu Polda Sumsel serta TNI dan instansi terkait lainnya menggelar simulasi pengamanan dalam Pilkada Serentak 2018.

Simulasi yang digelar di area Jakabaring Sport City (JSC) tepatnya depan Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ), Rabu (7/2) sekitar pukul 10.00 itu, berlangsung cukup dramatis.

Berita Sejenis
1 daripada 11

Bagaimana tidak, empat adegan yang diperagakan cara penanganan konflik massa pendukung pasangan calon kepala daerah itu diwarnai aksi baku tembak, ledakan bom dan aksi saling serang.

Simulasi itu berawal menceritakan salah satu pasangan calon kepala daerah yang sedang berkampanye di jalan raya dihadang kawanan bandit yang akan menculiknya.

Baku tembak pun terjadi antara aparat kepolisian dengan kawanan bandit. Beruntung berkat kesigapan petugas, pelaku dapat dilumpuhkan dan calon kepala daerah dapat diselamatkan.

foto/depe.

Kemudian, saat pemungutan suara. Segerombolan kelompok massa mencoba masuk kedalam tempat pemungutan suara (TPS) untuk mencoblos. Padahal mereka tidak terdaftar di TPS tersebut.

Polisi dan TNI yang sedang berjaga-jaga di lokasi langsung menangkap kelompok massa itu dan menggelandangnya ke Mapolsek terdekat untuk dilakukan pemeriksaan secara mendalam.

Ketegangan pun kembali terjadi, saat penghitungan suara. Dimana kantor KPU Kota Palembang dibuat gempar dengan ditemukannya bom didalam tas yang ditinggal pemiliknya.

Tim Gegana Brimob Polda Sumsel langsung mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) dan mengeluarkan benda mencurigakan itu menggunakan robot.

Setelah dibawa ke tempat dengan radius 100 meter dari kerumunan warga. Tim Gegana meledakan tas yang berisikan bom itu dan menyisir kantor KPU memastikan tidak ada lagi benda mencurigakan.

Tidak sampai disitu, kericuhan kembali terjadi bahkan semakin memanas. Ribuan pendukung pasangan calon yang tidak terima kekalahan calon kepala daerahnya, melakukan aksi turun ke jalan.

foto/depe.

Massa mencoba merangsek menerobos barikade polisi dengan cara mendorong maupun melakukan pelemparan. Tidak hanya itu, diantara massa itu juga nekat membakar ban di tengah jalan.

Meski dihalau dan disemprotkan air dengan  watercanon serta diberikan tembakan gas air mata, massa terus menyerang petugas. Bahkan sempat menjarah sejumlah toko yang ada di lokasi demo.

Aksi massa baru berhenti setelah aparat memberikan tindakan tegas kepada beberapa orang yang dianggap provokator. Usai dilakukan negosiasi, massa akhirnya membubarkan diri.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara mengatakan pihaknya sudah siap untuk mengamankan Pilakda 2018 yang dilakukan serentak di seluruh Indonesia.

“Di Sumsel kita ketahui baik provinsi, 4 kota dan 5 kabupaten akan mengelar Pilkada. Hari ini kita lakuka simuslasi sebagai bebntuk sinergitas polisi dan TNI dalam rangka kesiapan menjelang Pilkada,” katanya setelah simulasi di GSJ.

Zulkarnain menjelaskan, bagaimana dalam simulasi yang dilakukan pihaknya dan TNI yang melakukan tahapan-tahapan dalam mengamankan Pilkada dalam bentuk ancaman.

“Bentuk ancaman seperti ada ganguan di TPS, unjuk rasa ketidak puasan massa dari salah satu pasangan, unjuk rasa yang berujung kerusuhan dan penjarahan ini adalah bentuk kesiapan kami dalam menjelang Pilkada,” ujarnya.

Sementara, Kapolresta Palembang Kombes Pol Wahyu Bintono Hari Bawono sebagai pihak yang ditugasi menggelar simulasi mengatakan, simulasi yang dilakukan oleh pihaknya sebagai gambaran menyeluruh terhadap upaya PAM Pilkada Kota Palembang dan Pilgub Sumsel Juni mendatang.

“Ada 1.851 personel yang dilibatkan dalam simulasi ini, baik dari Polresta Palembang, Polda Sumsel TNI, di tiga angkatan dan termasuk personel dari Sat Pol PP Kota Palembang,” ujar Wahyu. Korankito.com/cr2/depe.

AN