Eksekusi Lahan Damri Ricuh

-Warga dan polisi terlibat bentrok

korankito/dhia.

Lubuklinggau- Eksekusi lahan Damri seluas 1,5 hektar yang ditempati oleh 32 Kepala Keluarga (KK) oleh Pengedilan Negeri dan Kejaksaan Negeri Lubuklinggau yang dibantu petugas kepolisian Polres Lubuklinggau berakhir ricuh.

Warga yang menduduki lokasi eksekusi lahan di Kelurahan Air Kuti, Kecamatan Lubuklinggau Timur I, Kota Lubuklinggau tersebut terlibat bentrok dengan ratusan aparat kepolisian yang melakukan pengamanan di tempat kejadian perkara (TKP).

Berita Sejenis

Kesal, Adik Kena Cincang

Warga Bentrok, Pistol Menyalak

1 daripada 2

Akibat bentrokan tersebut, delapan warga yang diduga provokator diamankan pihak kepolisian dan dua orang mengalami luka. Mereka adalah satu anggota Brimob Detasemen B Petanang luka sabetan senjata tajam (sajam) di tangan kiri dan Apriyanto (26) mengalami luka tembak di paha.

Berdasarkan pantauan Koran Kito di lapangan, Rabu (20/12) sekitar pukul 08.00, warga yang berada di perumahan mencoba menghalau eksekusi lahan dengan cara memblokade jalan menggunakan ratusan ban bekas.

Hal itu dilakukan, lantaran warga berharap dan meminta aparat kepolisian, pengadilan dan Perum Damri untuk menunda eksekusi. Mereka menilai hanyalah korban serta siap memberikan bukti baru kepada pihak pengadilan, namun semuanya dalam proses.

Namun, situasi mulai memana ketika Kapolres Lubuklinggau AKBP Sunandar memberikan peringatan kepada warga untuk meninggalkan lokasi, dikarenakan pihak pengadilan akan mulai melakukan pembongkaran bangunan dengan alat berat.

Peringatan tersebut tidak digubris oleh warga. Bahkan, warga mulai mulai dan menyerang petugas kepolisian dengan cara melemparkan bom molotov. Akan tetapi aparat tetap bertahan tanpa balasan dengan menggunakan tameng anti huru hara.

Kapolres kembali menegaskan agar warga segera membubarkan diri. Tetapi, warga yang sudah emosi terus menyerang petugas kepolisian. Hingga akhirnya petugas mulai merangsek maju kedepan dengan beriringan mobil water canon.

Perlawanan terus diberikan oleh warga dengan mengunakan bom molotov serta petasan. Sedangkan polisi terus menyemprotkan air dan menembakkan gas air mata kearah warga, aparat juga memberikan tembakan peringatan keudara dan mengepung warga dari berbagai penjuru.

Hingga akhirnya, polisi berhasil mengamankan delapan orang yang diduga provokator, dua diantaranya merupakan diduga aktor intelektual yakni Aiptu SB dan YC. Usai mengamankan tersebut, barulah petugas dapat mulai merobohkan bangunan.

“Ada delapan orang warga yang kita amankan, dua dintaranya merupakan aktor intlektual dari kasus eksekusi akan saya proses pidana, karena apa yang mereka lakukan sudah melanggar hukum,” ucap Kapolres saat ditemui di lokasi.

Tak hanya itu Kapolres juga menjelaskan eksekusi hanya berlangsung satu hari hingga sore sementara besoknya Kapolres Lubuklinggau menyerahkan ke pihak Perum Damri untuk segera melakukan pemagaran.

“Eksekusi kita upayakan selesai sampai sore ini, besok pihak Damri sudah bisa melakukan pemagaran,” tambahnya.

Dari lokasi aparat mengamankan ratusan bambu runcing, senjata api, senjata tajam, bensin, air keras, dan sepuluh kendaraan roda empat yang rusak akibat bentrok tersebut. Selain itu, perabotan milik warga diangkut menggunakan 10 mobil truk menuju gudang PU Lubuklinggau.

“Kita sudah beberapa kali memperingatkan untuk mengosongkan rumah, namun tidak digubris. Eksekusi sudah memiliki hukum tetap dan harus dilaksanakan.  Untuk satu bulan kedepan barang-barang milik warga kami simpan digudang dan silahkan diambil,” tutup Humas Pengadilan Negeri Lubuklinggau Hendri. Korankito.com/dhia/depe.

AN