115,5 Kilo Telur Belangkas Gagal Diselundupkan!

foto/depe.

Palembang- Direktorat Polairud Polda Sumsel menggagalkan penyelundupan telur ketam tapal kuda atas belangkas sebanyak 115,5 kilogram dari perairan Sei Semilang, Desa Sungsang, Kecamantan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Sumsel.

Selain telur belangkas, aparat kepolisian juga mengamankan tiga orang tersangka. Mereka adalah Amat Dani (49), Nawi (63) dan Muhammad Arif (31). Ketiganya tercatat sebagai warga Sungsang, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin.

Berdasarkan data dihimpun penangkapan tersangka berawal ketika aparat kepolisian sedang melakukan patroli di perairan Sei Semilang menggunakan kapal Sei Rambang V-3004. Petugas melihat aktifitas mencurigakan di sebuah gudang perairan tersebut.

Benar saja, ketika dilakukan penggeledahan. Aparat menemukan tersangka amat dan Nawi sedang membungkus 15,5 kilogram telur belangkas dan 59 ekor belangkas yang akan dijual. Mendapati temuan itu, anggota mengamankan keduanya untuk dilakukan pemeriksaan.

Usai diperiksa, petugas melakukan pengembangan dengan menangkap Arif di kediamannya. Dari tangannya, polisi mengamankan 100 kilogram telur belangkas yang sudah siap untuk dijualkan kepada pembelinya.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara didamping Direktur Polairud Kombes Pol Robinsin Siregar membenarkan pihaknya menggagalkan penjualan hewan dilindungi. Ia menyebutkan, belangkas dan telurnya merupakan satwa yang dilindungi. Sehingga perburuannya dilarang dan termasuk pidana.

Zulkarnain mengatakan, saat ini pihaknya masih mengejar satu orang tersangka yang merupakan warga Kota Medan. “Kita masih telusuri alur distribusinya, apakah ada indikasi permintaan dari luar negeri atau tidak semuanya masih diselidiki,” katanya saat gelar perkara, Rabu (20/12) siang.

Kapolda menyebutkan, untuk barang bukti pihaknya mengamankan 59 ekor belangkas. 54 ekor masih hidup dan lima diantaranya sudah mati. Sedangkan untuk telur, pihaknya mengamankan 15,5 kilogram dari tersangka Amat dan Nawi, 100 kilogram dari tangan Arif.

“Untuk ketiga tersangka akan diancam dengan pasal 21 ayat 2 Undang-undang tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan diancam dengan hukuman lima tahun penjara,” ujarnya.

Sementara tersangka Amat mengaku, ia bersama Nawi mendapatkan blangkas dari menjaring di perairan Sei Semilang. “Setiap hari menjaringnya, selain dapat ikan kami juga dapat blangkas dan telurnya. Kami pisahkan dan jual ke Arif. 15 Kg itu hasil selama empat hari Pak,” tuturnya.

Amat akan menjual belangkas ke Arif dengan harga Rp5 ribu per ekornya. Sementara untuk telur dirinya menjual Rp50 ribu per kilogram. “Saya tidak tahu kalau dilarang Pak, saya mengira seperti ikan sungai lainnya, makanya kami ambil,” ungkapnya.

Sedangkan, Arif mengaku sudah dua kali menjual telur belangkas dan belangkas hidup kepada YS (DPO) warga Kota Medan. “Saya beli dari nelayan seperti Amat dan Nawi sekilonya Rp50 ribu saya jual lagi Rp80 ribu jadi saya untung Rp30 ribu. Saya kirim lewat jalur darat, sudah dua kali masing-masing sebanyak 60 kilogram,” tutupnya.korankito.com/depe.

AN