Pamer Kekayaan Sumsel, 2 Pelajar IGS Dapat Ganjaran Ini

Dua siswa yang berhasil memenangkan penghargaan di ajang Anugrah Kihajar 2017, Bernard Lesley Efendy (kiri) dan Meilia Wanady (kanan). Foto/ejak

Palembang – Dengan mengusung potensi wisata dan alam yang ada di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), dua pelajar Ignatius Global School (IGS) Palembang mendapat peringkat kedua diajang nasional Anugrah Kita Harus Belajar (Kihajar) 2017 yang digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) beberapa waktu lalu.

Kedua siswa tersebut, yakni Bernard Lesley Efendy kelas IX IGS yang berhasil menjadi juara kedua nasional tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Meilia Wanady siswi kelas XII IGS yang juga berhasil mendapatkan juara kedua untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) diajang Anugrah Kihajar 2017.

Berita Sejenis

Ratusan Peserta Ikuti Tri Lomba Pramuka

Polsri Gelar EDS Kedelapan

1 daripada 2

Masing-masing siswa ini membawa keunggulan Provinsi Sumsel dikancah nasional, seperti halnya Meilia Wanady yang membawa tema ekonomi dan parawisata dengan memperkenalkan potensi Pulau Kemaro dan imbas Asian Games 2018 terhadap pemasukan Sumsel. Sedangkan Bernard membawa tema flora dan fauna yakni kekayaan lokal Duku Komering dan Ikan Belida.

Meilia menjelaskan, tulisannya memfokuskan pada imbas Asian Games yang mampu meningkatkan potensi pariwisata, dan ia menitik beratkan pada potensi pulau kemaro yang belum sepenuhnya diangkat seperti masalah jalur transportasinya, lalu fasilitas pendukung seperti tempat makan dan toilet yang masih kurang.

“Melalui tulisannya ini juga saya memberikan salah satu solusi kepada pemerintah untuk meningkatkan peson Pulau Kemaro bagi wisatawan yakni dengan membuat loket dan jadwal khusus transportasi menuju Pulau Kemaro,” ungkapnya, Senin (20/11).

Sementara itu, Bernard mengaku, dalam tulisannya ia membahas tentang ciri khas yang dimiliki Sumsel dalam komoditasnya yakni ikan Belida dan Duku Komering. Menurutnya, Ikan Belida merupakan ikon yang sangat khas di Kota Palembang sehingga dibuatkan tugunya. “Kalau Duku Komering itu sudah terkenal rasanya. Maka dari itu, saya ingin lebih mengenalkan kedua ikon ini kepada publik,” katanya.

Terpisah, Ketua Yayasan IGS Palmebang Ko Jhoni mengatakan, pembelajaran materi yang diterapkan di IGS Palembang sendiri hanya berlangsung selama dua tahun saja. Sedangkan satu tahun sisanya siswa akan lebih banyak melakukan try out (TO).

“Karena sering melakukan TO, siswa sudah terbiasa degan soal yang umum dan siap mengikuti lomba kapan saja meski minim persiapan,” tegasnya. (ejak)

AN