Alumni Keguruan Jangan Berpikir Sempit  Hanya Menjadi Guru

Ketua STKIP PGRI Lubuklinggau, H Rudi Erwandi. Foto/dhia

Lubuklinggau – Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Lubuklinggau setiap tahunnya mengeluarkan alumni 600-700 orang. Tentunya, alumni-alumni tersebut akan bersaing mencari kerja terutama kerja yang sesuai disiplin ilmu mereka yakni menjadi guru.

Namun, untuk merealisasikan hal itu bukanlah satu hal yang mudah. Apalagi di Bumi Sebiduk Semare ini yang memiliki luas wilayah yang tidak terlalu besar.

Mengantisipasi hal itu, Ketua STKIP PGRI Lubuklinggau, H Rudi Erwandi mengingatkan, agar mahasiswanya terutama yang sudah lebih dahulu menjadi alumni, untuk tidak berpikir sempit dalam mencari pekerjaan.

Dijelaskannya, sejak berdiri hingga sekarang STKIP Lubuklinggau telah mewisuda 6.345 orang mahasiswa yang sekarang telah menyandang gelar alumni. Memang diakuinya 60 persen dari jumlah alumni tersebut berkecimpung di dunia pendidikan mulai dari guru TK, SD, SMP, SMA dan Dosen.

Namun, tidak sedikit juga yang terjun kedunia lain. Seperti perbankan, hotel, jusnalist, wirausaha dan lain sebagainya. “Intinya saya tidak mau mahasiswa dan alumni berpikir sempit mencari kerja. Mentang-mentang kuliah keguruan harus jadi guru. Tidaklah. Yang berpolitik dan sukses juga banyak,” ujar Rudi.

Selain itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lubuklinggau ini juga berpesan agar mahasiswa dan alumni untuk berani bersaing mencari kerja di luar kota. Tidak hanya menunggu di Lubuklinggau saja. “Kan sudah banyak juga yang bekerja di bogor, tanggerang, lampung dan lainnya. Ini jadi contoh bahwa kuliah boleh di Lubuklinggau. Tapi kita siap bersaing dimanapun,” ungkapnya.

Apalagi, saat ini pihaknya sedang menggarap penanaman skil bagi mahasiswa dalam program kegiatan mahasiswa (pkm). Dijelaskannya, di PKM mahasiswa dipersilahkan memilih kuliah sesuai kebutuhan.

 “Kalau dia butuh jadi leader, maka ia harus ikut kuliah yang berbasis kepemimpinan. Kalau butuh menjadi pengusaha, maka ikut bagaimana menjadi interprener yang benar. Pokoknya kita siapkan sesuai kebutuhan mereka. Harapannya, setelah tamat mereka memiliki skil khusus, sehingga semakin kuat untuk bersaing,” tutupnya. Korankito.com/dhia/ria
AN