MI Al Hikmah Kehilangan Sosok Anak Periang

Kursi Jumiarni (almh). foto/ejak

 

Jumiarni masih sempat kumpulkan tugas sekolah sebelum meninggal

 

Palembang – KORKIT

Meninggalnya Jumiarni salah seorang siswi kelas II asal Madrasah Ibdita’iyah (MI) Yayasan Al Hikmah membuat syok tenaga pendidik dan teman sekelasnya. Pasalnya, tidak ada tanda-tanda apapun yang dirasakan teman sekelas dan gurunya di sekolah sebelum kepergiannya.

 

Jumiarni sendiri dinilai oleh Kepala MI Al-Hikmah Ust Rahmad Irwani sebagai sosok yang periang dan ramah, dimana setiap kali ia bertemu dengan guru dan orang yang lebih tua darinya, ia dengan ramah sembari tersenyum akan menyapa orang tersebut. Tingkahnya pun terkadang-kadang suka membuat lucu di kelas yang suka menirukan guru saat kelas kosong bersama temannya.

 

Selain itu, menurut Ust Rahman, Jumiarni sendiri merupakan anak yang rajin dan berahklak baik. Semenjak ia pindah ke sekolahnya empat bulan lalu, mendiang Jumiarni hanya dua kali absensi dikarenakan sakit.

 

Ia pun adalah anak yang supel dan mau bergaul dengan seluruh anak yang bersekolah di sini. Dan selama sekolahnya, ia tidak pernah berkelahi dengan temannya. “Karena sekolahnya masuk siang, sering ia datang cepat dan bermain dulu dengan temannya yang lain sebelum masuk kelas,” ujarnya.

 

Sementara itu, wali kelas II MI Yayasan Al Hikmah Mardiah mengaku, sangat syok dengan kepergian gadis yang berperawakan periang dan ramah itu. meski baru menjadi wali kelasnya selama empat bulan, ia sudah merasakan kehilangan yang cukup mendalam saat mendengar kabar duka tersebut.

 

Mardiah menerangkan, nilai akademiknya di kelas cukup baik dengan rata-rata nilai delapan. Bahkan sebelum meninggal pun Jumiarni sudah menyelesaikan beberapa hafalan surah pendek seperti Al-Kautsar, Al-Fiil dan Al-Qadar, dan juga ia sempat mengumpulkan tugas pelajaran IPA-nya.

 

Dari pantauan Koran Kito di sekolah tersebut, buku tulis Jumiarni masih tersusun rapi di meja guru dan belum sempat dikembalikan kepada almarhumah. di sana terlihat sampul buku dengan tulisan tangan almarhumah.

Buku Jumiarni (almh). foto/ejak

Terpisah, teman sekelas almarhumah, Fauzi didampingi temannya yang lain yakni Anisa, Putri dan Rehan menerangkan bahwa Jumiarni adalah teman yang baik dan terkadang juga suka iseng dengan mereka. Dan dengan kepergianya tersebut, secara serentak mereka mengaku merasakan kehilangan dan berduka. “Kami dulu suka bermain petang umpet dan kejar-kejaran kak. Sekarang tidak ada Jumi, jadi sepi,” pungkasnya. (ejak)