Menjamurnya Penangkaran Walet Di Muba Diduga Tidak Berizin

Salah satu penangkaran burung walet di Kabupaten Musi Banyuasin, yang berada di atas ruko. Foto/heri

 

Muba – Penangkaran burung walet di Kabupaten Musi Banyuasin kian bertambah, hal ini membuktikan usaha tersebut cukup menjanjikan bagi pengusahanya. Namun diduga menjamurnya usaha initidak berbanding lurus dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Musi Banyuasin dari sektor tersebut.

Berdasarkan Pantauan Koran Kito, di salah satu Kecamatan Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin, bangunan penangkaran sarang burung walet tersebut mulai marak. Sebagian besar penduduk kini beralih menjadi peternak walet sebagai alternatif sumber mata pencarian.

Menurut seorang pengusaha sarang burung walet di Sungai Lilin yang enggan disebutkan namanya mengatakan, penangkaran sarang burung walet di Sungai Lilin mulai marak, hal ini disebabkan bisnis air liur wallet ini cukup menjanjikan. “iya mas, saya sudah beberapa tahun ini usaha penangkaran, kalo masalah harga penjualan kadang naik kadang turun, namun setiap bulan kami masih ada pemasukan,” jelasnya.

Saat ditanya terkait perizinan yang dikantongi, dirinya mengatakan baru sebatas IMB saja, “kami mau kok membuat izin usaha ini, yang penting tidak ribet dan memberatkan kami,” jelasnya singkat.

Sementara itu, menurut Riyanto (42) bisnis sarang burung walet masih menjadi incaran pengusaha untuk meraup keuntungan. Bahkan harga sarang burung yang kian membaik, membuat pengusaha kian menambah investasinya dibidang penangkaran. Terpantau, selain di Sungai Lilin usaha penangkaran ini juga ada di Kecamatan Lalan, dan beberapa kecamatan dalam Kabupaten Muba.

Di satu sisi, bisnis sarang burung walet dalam bentuk penangkaran menguntungkan si pengusahanya, tapi karena tempat penangkaran dilokasi padat penduduk, membuat bangunan-bangunan besar hanya dihuni burung walet. Sedangkan warga yang bertetangga mengalami keresahan karena kuatir adanya penyakit yang disebarkan burung walet.

“Dibalik maraknya usaha sarang burung walet yang dilakukan oleh masyarakat, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana pengusaha sarang burung walet tersebut mendapatkan izin mendirikan bangunan yang kebanyakan bertingkat termasuk izin tetangga bagi gedung yang berdampingan dengan pemukiman warga lainnya. Hal itu dibutuhkan sebuah perangkat hukum agar memberikan kemanfaatan bagi masyarakat dan daerah,” ucapnya.

Sementara itu, Camat Sungai Lilin Melalui Sekretaris Kecamatan Affendi, membenarkan banyaknya usaha penangkaran walet di wilayah Kecamatan Sungai Lilin.

“Untuk izin usaha walet sepengetahuan saya belum ada, namun  perizinan Mendirikan Bangunan (IMB) sudah ada,” ujarnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi dan menghimbau masyarakat yang mengelola usaha penangkaran sarang burung walet untuk segera mengurus perizinan. Sebelum ada tindakan tegas dari dinas perizinan

Plt. Kepala DPMPTSP , Erdian Syahri, saat disambangi dikantornya mengatakan, akan melakukan pembenahan di dalam  dinas bersama kabid dan kasi yang sudah berjalan, kemudian kita akan laporkan kepada Bupati Muba, langkah-langkah apa yang akan kita lakukan dalam meningkatkan PAD Muba, terutama berkaitan dengan perizinan perusahan  dan non perusahan.

Erdian  Syahri menanbahkan, bahwa pihaknya membuka luas bagi pelaku usaha untuk membuat perizinan di DPMPTSP Kabupaten Muba, tidak ada dipersulit selagi prosedur dan rekomendasi dinas-dinas  terkait  sudah ada. “Jadi, diharapkan bagi pelaku usaha dan non usaha agar mengurus perizinan sesuai kebutuhannya,” tutupnya. Korankito.com/heri/ria