Bocah SD Meninggal Diduga Usai Imunisasi

Korban Jumiarni alias Ani saat disemayamkan di rumah duka di Jalan Panca Usaha, Lorong Parlopa, No 2621, RT 55, Kelurahan 5 Ulu, Kecamatan SU I Palembang. Foto/depe

Palembang- Malang menimpa Jumiarni alias Ani. Bocah berusia delapan tahun yang duduk di bangku kelas dua sekolah dasar (SD) ini harus meregang nyawa diduga usai menjalani suntik imunisasi tetanus di sekolahnya, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Yayasan Al Hikmah.

Bahkan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Anak dari pasangan Junianto (34) dan Meisyah (25) ini menderita kelumpuhan di kedua kakinya yang membuat tidak bisa berjalan dan hidungnya sempat mengeluarkan busa seperti lendir.

Ibu kandung korban mengatakan, kejadian berawal ketika putri sulung dari dua bersaudara ini mengikuti program suntik imunisasi tetanus di tempatnya menimba ilmu, Jum’at (10/11) siang. “Dia (korban), pagi-pagi sudah bangun. Terlihat begitu semangat untuk ikut imunisasi itu,” katanya.

Ia mengungkapkan, usai imunisasi tersebut anaknya masih sehat-sehat saja dan bermain seperti biasanya. Barulah di malam harinya, kaki sebelah kiri korban tidak bisa digerakan lagi. “Paginya (Sabtu) kaki sebelah kanannya juga tidak bisa bergerak lagi,” ungkap Meisyah.

Melihat kondisi anaknya seperti itu, lanjutnya, ia mendatangi tempat anaknya sekolah di Gang Duren, Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan SU I Palembang untuk memberitahu keadaan anaknya pascamenerima suntik imunisasi tersebut. “Saya kesana, menanyakan kenapa bisa terjadi seperti itu,” tuturnya.

Masih dikatakan Meisyah, mendapati kondisi anaknya yang kian memburuk. Dirinya pun membawa Ani ke Puskesmas 7 Ulu dan dirujuk ke Rumah Sakit Muhamadiyah Palembang (RSMP). “Kurang lebih dua hari anak saya disana, tapi kondisinya tidak membaik Pak,” tambahnya.

Setelah mendapatkan perawatan, takdir berkata lain. Korban akhirnya menghembus nafas terakhirnya, Selasa (14/11) sekitar pukul 09.00. “Sempat mengalami sesak nafas dan harus dibantu oksigen. Sekitar pukul 09.00, dia meninggal dunia,” ujarnya sambil menitikan air mata.

Ditambahkan Fitriyanti kakak perempuan Meisyah. Keponakannya sempat dibawah ke Puskesmas 7 Ulu untuk meminta pertanggungjawaban, dikarenakan pihak puskesmas itulah yang menyuntikan siswa-siswi di MI Al Hikmah.

“Kami sempat kesana, kata bidan yang menyuntiknya korban (Jumiarni) terkena infeksi obat. Keponakan saya yang satunya juga sempat mual setelah disuntik itu. Tapi, langsung saya suruh makan dan hilang mualnya,” cetus Fitriyanti.

Disisi lain, Kepala Sekolah MI Al Hikmah 7 Ulu Rahmat Irwani membenarkan ada siswanya yang meninggal dunia usai suntik imunisasi. Ia menyebutkan, sebelum disuntik. Pihak Puskesmas 7 Ulu sempat mengecek kondisi korban dan saat itu dalam keadaan sehat.

“Kalau badannya sedang panas, tentu tidak boleh disuntik. Setelah disuntik itu, malam harinya korban muntah dan sempat mengeluarkan busa. Pihak Puskesmas juga proaktid menanyakan kondisi si anak dan dirujuk ke RS Muhammadiyah,” katanya.

Pantauan Koran Kito, para pelayat baik dari keluarga maupun warga sekitar mulai berdatangan memadati rumah duka yang berada di Jalan Panca Usaha, Lorong Parlopa, No 2621, RT 55, Kelurahan 5 Ulu, Kecamatan SU I Palembang.

Isak tangis keluarga korban pecah melihat tubuh korban terbujur kaku dan terbungkus kain kafan. Terlebih lagi, Meisyah sangat terpukul dengan kepergian anak keduanya. Bahkan, Juniarno ayah korban sempat jatuh pingsan seakan tak percaya anaknya telah tiada.

“Saya sudah ikhlas dengan kepergian anak saya. Mungkin memang takdirnya sudah seperti itu. Tapi kenapa sampai anak saya meninggal itu, pihak puskemas belum memberikan penjelasan,” kata ayah korban yang keseharian sebagai sopir ini. Korankito.com/CR2/depe