Polisi Dalami Kasus Penjualan Anak Kandung

 

Palembang – Aparat Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Palembang, terus mela

Yanti dan Sri saat berada di ruang Unit PPA Polresta Palembang, Senin (13/11). Foto/cr2

kukan pendalaman terkait kasus Yanti (37) warga jalan Bambang UtoyoLorong Sianjur III, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, yang tega menjual anak kandungnya sendiri berinisial HD (2) melalui seorang perantara bernama Sri (41).

Saat ini, kedua pelaku masih dilakukan pemeriksaan mendalam oleh pihak kepolisian.

“Jadi untuk keduanya pelaku Yanti dan Sri masih ditahan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ungkap Kasat Reskrim Polresta Palembang, Kompol Yon Edi Winara, Senin (13/11).

Unit PPA Polresta Palembang masih mendalami motif Yanti yang menjual anaknya tersebut. Permasalahan ekonomi yang diderita keluarganya, disebut-sebut menjadi pemicunya.

“Kehidupannya memang sangat miris. Terungkapnya kasus ini, berawal dari adanya laporan penculikan dari pelaku sendiri, namun setelah diselidiki ternyata sang bayi tidak diculik melainkan dijual,” terangnya.

Dari hasil pengembangan sementara, polisi berhasil menyita sejumlah barang bukti dari rumah Yanti berupa televisi, kasur, dan sepeda. Semua barang tersebut diduga hasil dari jual beli anak tersebut. Informasi yang diterima, Yanti menjual HD senilai Rp 25 juta.

“Namun belum diidentifikasi dan belum dirinci jumlahnya. Kemungkinan nanti bisa bertambah lagi,” jelasnya.

Untuk kasus penjualan anak ini, sambung Yon, Joni yang tak lain suami dari Yanti dinyatakan belum terlibat apa-apa. Sebab dari hasil penyelidikan, polisi tidak mendapatkan bukti apapun terkait keterlibatannya.

Sementara itu, Yanti mengakui jika dirinya hanya mendapatkan uang Rp10 juta dari hasil menjual anaknya tersebut.

“Untuk total uangnya sebesar Rp25 juta. Tapi saya hanya dapat Rp10 juta,” kata wanita yang tengah hamil 5 bulan ini.

Diakuinya, kalau dirinya nekat menjual anaknya kepada seseorang karena himpitan ekonomi yang tengah dialaminya.

“Terpaksa karena saya tidak ada uang untuk makan dan bayar uang kontrakan yang sudah menunggak selama dua bulan, sebulannya Rp200 ribu,” akunya.

Selain itu, lanjut Yanti, sang suami Joni yang bekerja serabutan yang terkadang tak mendapatkan uang.

“Kerjanya serabutan jual tembaga. Kami sering ribut karena sering tidak punya uang. Maka dari itu saya memilih untuk berpisah dengan dia (Joni),” ucapnya.

Sedangkan Sri menambahkan, jikaYanti mendapatkan uang sebesar Rp25 juta dari hasil menjual anaknya tersebut.

“Uangnya Rp25 juta. Dia (Yanti) dapat Rp10 juta dan untuk saya Rp10 juta, sedangkan Rp 5 jutanya dikasihkan ke Abok,” jelasnya.

Ketika ditanya siapa Abok, Sri mengaku kalau dirinya baru mengenal Abok sekitar tiga bulan yang lalu. Abok disebutnya berprosfesi sebagai tukang ojek ini dan tinggal di kawasan Kenten tak jauh dari kediamannya.

“HD dijual kepada Cece. Katanya untuk diadopsi karena tak punya uang jadi anaknya menjadi jaminan,” jelasnya

Diakui Sri, satu tahun yang lalu dirinya juga pernah menjadi perantara penjualan anak.

“Pernah, tapi sudah lama. Waktu itu ibunya tidak ada uang untuk memnebus anaknya yang sedang berada di rumah sakit. Dari hasil tersebut saya hanya mendapat Rp500 ribu, uang untuk menebus bayi di RS Rp400 ribu sedangkan uang untuk ibu bayi Rp1,5 juta,” bebernya. korankito.com/CR2/die