Tak Ada Salahnya Sumsel Tiru Singapura

Para wartawan olahraga dan penggiat sosial media saat melakukan studi banding ke Negara Singapura. Foto/nisa

Palembang-Tak sampai satu tahun lagi Palembang akan menjadi tuan Asian Games. Sebagai tuan rumah, Sumsel khususnya Palembang terus melakukan terobosan agar pesta olahraga yang diikuti 45 negara diAsia ini berjalan sukses. Termasuk juga memperbaiki dan menambah infrastruktur pendukung seperti pembangunan Light Rail Transit (LRT) dan pembuatan jembatan Musi IV yang menjadi prioritas.

Hal itu juga dilakukan, sebagai solusi untuk mengurangi kemacetan di kota Palembang. Selain itu, penambahan icon atau ciri khas seperti pembangunan tugu Belido juga dilakukan oleh pemerintah.

Berita Sejenis
1 daripada 13

Lalu bagaimana dari segi kenyamanan di Sumsel ini? Sebagai refrensi, Sumsel pun bisa mengadopsi kedisiplinan, keamanan dan kenyaman dari kota tetangga Singapura. Sebab, negara dengan julukan singa putih ini merupakan salah satu negara yang dikenal akan ketertiban dan kenyamanannya.

Salah satu buktinya yakni tidak adanya kemacetan di sejumlah ruas jalan raya di Singapura. Hal itu terlihat beberapa pengendara mobil tampak tertib berada dijalur yang telah disediakan. Sementarauntuk pejalan kaki juga sangat mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Bahkan jika tidak ada mobil yang melintas pun para pejalan kaki tetap menunggu hingga lampu traffic light hijau menyala. Tidak adanyakemacetan tersebut, mungkin menjadi pemandangan yang menarik bagi warga Indonesia.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Provinsi Sumsel, Farhat Syukri mengungkapkan kekagumanannya  terhadap ketertiban warga negara Singapura. Untuk itu, farhat berniat mengadopsi beberapa aturan yang ada di Singapura untuk diterapkan di Palembang.

“Tidak ada kemacetan disini (Singapura). Kita sudah lihat dan merasakan sendiri. Kedisiplinan masyarakatnya sangat luar biasa. Bahkan untuk merokok pun benar-benar diatur, ada area khusus untuk para perokok dan itu dipatuhi masyarakatnya. Mudah-mudahan kedepannya Palembang bisa mencoba menerapkan aturan ini,” ujar Farhat, saat kunjungan di Singapura bersama wartawan dalam rangka persiapan Sumsel menjadi tuan rumah Asian Games 2018, belum lama ini.

Sementara untuk menekan angka kemacetan, Farhat mengatakan, ada beberapa poin penting yang telah diterapkan oleh negara Singapura yang terbukti efektif. Salah satunya dengan menaikkan harga kendaraan khususnya mobil dan meninggikan biaya pajaknya, sehingga tidak sembarang warga yang memiliki kendaraan. Dengan kata lain, kalangan atas atau keturunan ningrat saja yang memiliki mobil di Singapura. Secara tak langsung, pemerintah Singapura “memaksa” warganya menggunakan angkutan umum, hingga akhirnya pun terbiasa seperti saat ini.

”Di Singapura harga mobil luar biasa mahalnya yang tidak mungkin mampu dijangkau warga biasa kecuali orang kaya. Lalu ada juga regulasi masyarakat harus membeli mobil berplat merah yang hanya digunakan untuk hari-hari tertentu seperti weekend. Jadi memang masyarakat Singapura dipaksa menggunkaan angkutan umum. Inilah culture disini yang menyebabkan Singapura disiplin, tertib dan tidak adanya kemacetan. Hal inilah yang nantinya akan kita usulkan ke Pemprov Sumsel,” ucapnya.

Senada dengan itu, agen perjalanan Singapura, Ling Hock Huat juga membeberkan  faktor sehingga Singapura terbebas dari masalah kemacetan. Salah satunya seperti yang dikatakan Farhat. Dimanapemerintah Singapura menerapkan biaya pajak mobil sebesar 50 persen dari harga mobil itu sendiri.

“Disini hanya 65 persen warga yang memiliki mobil pribadi dan sisanya mereka membaur menggunakan angkutan umum. Hal itu karena pajaknya mobil sangat mahal. Hanya kalangan tertentu yang bisa membeli mobil, yang lainnya memilih menggunakan transportasi umum, dan ada juga memilih berjalan kaki untuk mengurang kemacetan,” ujar pria yang biasa disapa Kevin ini.

Pria berdarah Tionghoa ini juga menguak fakta menyengangkan tentang warga Singapura. Kevin menceritakan, 85% warga memilih tinggal di rumah susun dan sisanya mempunyai apartemen ataupunrumah sendiri. Apa yang dikuak Kevin cukup beralasan mengingat banyak sekali gedung berupa rumah susun dan apartemen yang ada di Singapura.

“85 persen warga Singapura menempati rumah susun. Rumah susun itu saja mendapatkan subsidi dari pemerintah selama 90 tahun. artinya setelah itu rumah tersebut kembali lagi menjadi milik pemerintah. Tapi untuk apartemen dan rumah pribadi, hanya kaum elite yang mampu membelinya. Itu terjadi karena biaya hidup di Singapura sangat mahal. Untuk memiliki rumah susu saja syaratnya penghasilan minimal Rp30 juta perbulan,” jelasnya.

Berkaca pada kedisiplinan, kenyaman dan ketertiban di Singapura, tak ada salahnya jika Palembang sebagai tuan rumah Asian Games 2018 agar mengadopsi kebiasan warga Singapura dan membatasi jumlah kendaraan. Hal itu juga dilakukan demi kenyaman dan keamanan kota Palembang kedepannya. Sebab jika tidak begitu, beberapa tahun lagi bukan tidak mungkin Palembang menjadi lautan kendaraan.korankito.com/nisa/die

AN