UT Sanggah Tudingan Kopertis Wilayah II

Ketua IKA UT Yuswar Hidayatullah (kiri) bersama Kepala UPBJJ-UT Adi Winata (kanan) saat mengklarifikasi tudingan Kopertis Wilayah II. Foto/ejak

 

Mayoritas mahasiswa UT dari kalangan pekerja

 

Palembang – KORKIT

Berita Sejenis

HD Ajak Masyarakat Menjaga Kebersamaan

Dorong Kolaborasi Filantropi di Muba

1 daripada 4.022

Adanya gunjingan tentang “perguruan tinggi (PT) layaknya rumah makan Padang dan menghambat perguruan tinggi swasta (PTS)” terhadap Universitas Terbuka (UT) yang dilontarkan oleh Kopertis Wilayah II beberapa waktu lalu dibantah dengan tegah oleh Kepala Unit Program Belajar Jarak Jauh UT (UPBJJ-UT) Adi Winata.

 

Pria yang akrab disapa Adi ini menegaskan, pangsa pasar UT itu berbeda dengan PTS, dimana PTS mayoritas menerima mahasiswa baru dari kalangan siswa yang baru lulus sekolah. Sedangkan UT lebih dominan diminati oleh calon mahasiswa dari kalangan yang sudah bekerja yang tidak punya waktu untuk kuliah secara tatap muka.

 

“Sekitar 90 persen mahasiswa kita berasal dari keluarga pra sejahtera dan hampir 80 persen dari yang sudah bekerja baik dari pegawai biasa hingga pejabat pemerintahan. Jadi pangsa pasar kita itu sebenarnya berbeda. Jadi kalau ada yang bilang UT itu menghambat penyerapan mahasiswa di PTS, jelas itu salah,” tegas pria berkaca mata ini saat mengklarifikasi tudingan tersebut, Rabu (25/10).

 

Kemudian mengenai adanya tudingan beberapa waktu lalu tentang UT yang diibaratkan rumah makan, pihaknya meminta pihak yahng menyatakan hal tersebut agar dapat segera mengklarifikasinya.

 

Sebab ia menilai, sistem perkuliahan jarak jauh dengan media online tersebut, memang bisa diakses kapan saja oleh mahasiswanya. “Saya minta klarifikasi supaya UT tidak diibaratkan rumah makan. Kalau mau diibaratkan sekalian saja seperti angkringan. Sebab disini bisa 24 jam sehari mengakses modul pembelajarannya, selama tersedia perangkat dan jaringan,” katanya.

 

Selain itu, Adi menerangkan, kalau penyerapan mahasiswa baru di UT itu dibatasi, sedangkan minat kuliah lebih tinggi di daerah 3T (tertinggal, terluar dan terdepan) lalu bagaimana PT mau mengaksesnya. Sebab ia menilai, tidak semua daerah mempunyai PT.

 

“Bagaimana yang berada di daerah 3T dan juga perairan. Kalau mau kuliah secara tatap muka, mereka akan jauh dari rumahnya dan akan mengeluarkan biaya lebih selama perkuliahannya. Jadi lebih baik kuliah disini toh,” ujarnya.

 

Senada, Ketua Ikatan Alumni UT Yuswar Hidayatullah menambahkan, sebenarnya keberadaan UT ini merupakan tantangan agar meningkatkan PTS dapat meningkatkan akreditasinya, dan ini juga tugas Kopertis untuk mendorong PTS tersebut.

 

“Saya kuliah di UT saja ketika saya sudah duduk di kursi dewan, sebab disini akreditasinya jelas, semua program studi (prodi) terakreditasi minimal B dan juga biayanya cukup murah. Jadi dari pada kuliah di PTS abal-abal dengan akreditasi tidak jelas, mending kuliah disini saja,” kata Ketua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Palembang ini,” pungkasnya. (ejak)

AN