Diduga Terlibat Kasus Pembunuhan, Aiptu BS Terus Dikejar

Ilustrasi

Palembang- Sudah satu bulan lebih, tepatnya 38 hari, oknum anggota polisi Aiptu BS menjadi buronan, setelah diduga melakukan pembunuhan terhadap Tarmizi (38), seorang tukang jahit di Jalan Angkatan 66, Kecamatan Kemuning, Palembang.

Kapolresta Palembang, Kombes Pol Wahyu Bintono Hari Bawono berujar, pihaknya masih terus mengejar pelaku meskipun selalu kalah satu langkah. Ketika anggotanya mengendus keberadaan tersangka, Aiptu BS sudah tidak ada ditempat.

Berita Sejenis

Dua Pengeroyok Oknum Polisi Diringkus

Pembunuh Matnut Ditangkap di Pool Bus

1 daripada 11

“Kami masih mengejarnya. Pelaku memang berpindah-pindah. Sebelumnya jejak tersangka terlacak sempat berada di perbatasan Jambi-Sumatera Barat dan terakhir di Banyuasin. Namun hingga kini kami masih menelusuri petunjuk lain,” ujarnya, Rabu (25/10).

Sementara Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara menegaskan, pihaknya sudah pasti akan memecat Aiptu BS, meskipun belum terbukti melakukan pembunuhan. Setidaknya ia telah mangkir dalam menjalankan tugasnya sebagai anggota polisi dengan tak kunjung hadir bekerja.

“Kalau si oknum tersangka ini lari, sudah pasti akan kami pecat karena dianggap disersi walaupun pidanannya belum bisa diproses karena tersangka melarikan diri,” tegasnya.

Sebelumnya Kapolda mengungkapkan, mobil milik terduga Aiptu BS ditemukan di wilayah Sumatera Barat berbatasan dengan Provinsi Jambi. Di dalam mobil Xenia nopol BG 1673 MF terdapat senjata api yang diduga merupakan senjata pembunuh korban.

“Jenis senjatanya adalah airsoftgun, tapi telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa menampung peluru tajam. Di mobil pun kami menemukan amunisi aktif,” ujarnya.

Polresta Palembang yang menangani penyelidikan kasus ini telah menerbitkan surat daftar pencarian orang (DPO) terhadap Aiptu BS.

“Lokasi BS sendiri diketahui berpindah-pindah. Anggota di lapangan masih melakukan penyelidikan dan pengejaran. Doakan saj cepat tertangkap,” kata Zulkarnain.

Untuk tersangka bisa saja dikenakan Pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan kematian, atau 351 KUHP tentang penganiayaan, atau 338 KUHP tentang pembunuhan..

“Saya minta maaf kalau itu memang oknum (polisi-red). Tapi kami janjikan akan diproses sebagaimana tindak pidana semestinya. Jika hukumannya lebih dari 4 tahun maka dapat diajukan Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH),” tegasnya. Korankito.com/adi/depe

AN