Sempat Melawan, Spesialis 3C Ditembak Mati

saat jenazah korban ditembak mati polisi, hendak dimasukan ke ambulance untuk dibawa kerumah duka, Selasa (24/10). Foto/adi

Palembang- Gara-gara melawan petugas kepolisian. Sahrul alias Fahrul (26), spesialis kasus curas, curat, dan curanmor (3C) serta kepemilikan senjata api rakitan (senpira) harus meregang nyawa setelah peluru petugas menembus dadanya.

Berdasarkan data yang dihimpun, penangkapan pelaku berawal ketika anggota Pidum Satreskrim Polresta Palembang mendapatkan informasi keberadaannya di kawasan Jalan Mayor Ruslan, Kelurahan 9 Ilir, Kecamatan IT II Palembang, Selasa (24/10) pukul 04.00.

Berita Sejenis
1 daripada 70

Menindaklanjuti informasi itu, petugas mendatangi lokasi. Namun, ternyata Fahrul yang mengetahui kedatangan anggota langsung melarikan diri dengan menggunakan sepeda motor bersama satu orang rekannya.

Petugas pun melakukan pengejaran terhadap kedua tersangka hingga ke bawah Jembatan Musi II, Kecamatan Gandus, Palembang dan sempat terjadi kontak senjata beberapa kali antara keduanya.

Meskipun sudah diblokade di bawah Jembatan Musi II, keduanya tidak mau menyerah. Sehingga, petugas mengambil tindakan tegas terukur, Fahrul akhirnya tersungkur setelah tiga butir pelor menembus dadanya, sedangkan temannya melarikan diri dengan motornya.

Kasat Reskrim Polresta Palembang Kompol Yon Edi Winara didampingi Kanit Pidum Iptu Azwan membenarkan pihaknya menangkap residivis kasus 3C yang sering beraksi di wilayah hukum Polresta Palembang dan sekitarnya.

Selain itu, tersangka juga pernah melakukan penggelapan sepeda motor, pengeroyokan, dan residivis kambuhan yang baru tiga bulan keluar dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kota Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

“Satu orang pelaku tewas tertembak karena melakukan perlawanan dengan gunakan senpi jenis pistol saat ditangkap. Pelaku merupakan buronan Polresta dan beberapa Polsek di Palembang,”: katanya saat dimintai konfirmasi di RS Bhayangkara, Selasa (24/10) siang.

Ia menyebutkan, saat beraksi tersangka tak segan-segan menyiramkan air keras ke korbannya hingga menyebabkan luka berat bahkan cacat. Sebelum penangkapan, pihaknya telah menyelidiki keberadaannya sejak satu minggu yang lalu.

“Pengintaian terhadap tersangka pun telah dilakukan sejak lama dengan mengumpulkan berbagai laporan aksi kriminal yang diderita masyarakat. Pelaku pun sudah 2-3 tahun buron sehingga penangkapannya menjadi target utama operasi kami,” ujarnya.

Yon menambahkan, dari tangan tersangka petugas mendapati senpira jenis revolver berserta amunisi, sajam jenis pisau dan satu paket narkoba jenis shabu yang ditemukan di saku celananya.

“Sempat kami bawa ke rumah sakit namun meninggal di perjalanan. Akhirnya dibawa ke Instalasi Forensik RS Bahayangkara Palembang untuk keperluan visum dan otopsi. Kita masih mengembangkan dan menyelidiki, untuk mengejar pelaku yang lari,” tambahnya.

Sementara itu, ayah pelaku Suyanto (55) mengatakan, dirinya tahu dari polisi kalau anaknya meninggal. Ia menyebutkan, tidak mengetahui anak ketiganya dari tiga bersaudara ini sering beraksi kriminal, karena Fahrul juga bekerja di bengkel.

“Anak saya itu, sering menghilang dalam waktu yang lama dan tidak pulang ke rumah. Tidak tahu apa yang dikerjakannya. Beberapa waktu yang lalu, usai menjual ponsel dia pergi selama 15 hari, tidak tahu rimbanya kemana, kata Suyanto.

“Anak tersebut memang terkadang menghilang lama tidak pulang ke rumah, tidak tahu apa yang dikerjakannya,” ujarnya.

“Semalam sebelum kejadian anaknya menelpon minta dibelikan kipas angin. Dia bilang iya nanti papa dibelikan. Lalu dia minta uang ke saya dan pergi. Setelah itu dapat kabar tahu-tahu sudah meninggal,” pungkasnya. Korankito.com/adi/depe

AN