Siti Zuhro : Pencitraan Tidak Masalah Asal Jangan Dominan

Peneliti Senior LIPI, Siti Zuhro.(rika)

Palembang – Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak yang segera akan dilaksanakan pada tahun 2018 mendatang, tentu saja berbagai upaya kini tengah dilakukan masing-masing kandidat calon pemimpin daerah ini guna menarik simpati dalam masyarakat. Hanya saja, tak sedikit para calon melakukan kegiatan yang dinilai penuh pencitraan seperti blusukan dan lain sebagainya. Dalam hal ini, Peneliti Senior LIPI, Siti Zuhro mengatakan, pencitraan merupakan suatu hal yang masih wajar dilakukan hanya saja hal tersebut jangan sampai mendominasi hingga mengabaikan program program yang sistematis dan bermutu.

“Menurut saya, politik itu selalunya politik pencitraan. Dunia politik itu memang aktifitasnya berdekatan sekali dengan politik pencitraan. Tidak kita permasalahkan itu, tapi jangan terlalu dominan. Sebab apa kalau itu (pencitraan) terlalu banyak,  masyarakat bisa menilai sendiri kalau itu bohong gitu loh, ” ungkapnya, saat diwawancarai korankito.com pada acara sosialisasi Pilkada di Hotel Excelton, Senin (23/10).

Menurut Siti, pencitraan itu merupakan hal yang lumrah melekat pada calon kandidat, namun yang jadi masalah ketika pencitraan itu berlebihan, sehingga kesan yang diambil dari masyarakat sendiri menjadi mengada-ada atau berlebihan.

“Jadi proper saja gitu jangan berlebihan, nantinya bisa membentuk opini publik kalau kegiatan tersebut suatu kebohongan,” tukasnya.

Sementara itu, terkait adanya beberapa calon yang kembali mencalonkan diri lagi dalam Pilkada mendatang, ia menerangkan, tidak masalah kalau yang bersangkutan (calon) merupakan eiger, terlebih lagi kalau si calon ini mau dan ada yang mendukung .

“Nah kalau pencalonan ini sendiri dilakukan hingga ke tiga kalinya, mungkin orang-orang yang seperti itu berpikir kalau sebenarnya ia menang pada pertarungan (pemilihan) sebelumnya hanya saja dicurangi, jadi ia keukeuh gitu. Nah kalau persoalan mengembalikan modal ketika terpilih, saya tidak yakin, sebab apa itu sudah jadi resiko, ” jelasnya.(korankito.com/rika/mbam)

AN