Harnojoyo Imbau Jauhi Narkoba Dengan mencintai Musholla dan Masjid

Walikota Palembang Harnojoyo dan Dirjen Rehabilitasi Sosial Penyalahgunaan Napza, Kementerian Sosial RI, Waskito Budi Kusumo saat menghadiri peresmian gedung asrama rehabilitasi narkoba Pondok Pesantren Ar Rahman yang merupakan bantuan hibah dari pemerintah Jepang, Selasa (17/10).

Palembang – Walikota Palembang Harnojoyo menghadiri peresmian gedung asrama rehabilitasi narkoba Pondok Pesantren Ar Rahman yang merupakan bantuan hibah dari pemerintah Jepang, Selasa (17/10). Dalam sambutannya, Harnojoyo mengungkapkan, salah satu upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba yang bisa dilakukan yakni  dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Pada dasarnya 80% masyarakat kita sudah mengetahui bahaya narkoba, namun karena besarnya pengaruh dan lemahnya keteguhan iman, sehingga masih ada masyarakat yang mengkonsumsi narkoba,” ungkapnya.

Berita Sejenis
1 daripada 10

Melalui program sholat subuh berjamaah, jelas Harnojoyo dapat menjadi salah satu upaya untuk menghindari narkoba. Karena dengan selalu mendekatkan diri kepada tuhan dan menjalankan segala perintah dan menjauhi semua larangan, keinginan untuk mencoba barang haram tersebut dapat dihindari.

“Masyarakat yang mencintai musholah dan masjid, Insya Allah dapat menjauhi narkoba,“ tuturnya.

Harnojoyo berharap dengan adanya tempat rehabilitasi tersebut mampu merubah mental dan prilaku dari pengguna narkoba itu sendiri.  Karena selain insaf untuk tidak menggunakan narkoba juga mampu menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Mari kita jaga diri kita, keluarga kita, dan lingkungan kita. Agar menjadi masyarakat yang sehat dan bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, dan lingkungannya,”tegasnya.

Sementara itu, Dirjen Rehabilitasi Sosial Penyalahgunaan Napza, Kementerian Sosial RI, Waskito Budi Kusumo menambahkan, narkoba merupakan masalah sosial  nomor satu dunia. Yang mana pengguna narkoba saat ini tidak hanya dari usia dewasa saja melainkan sudah menjangkau anak-anak.

“Untuk Indonesia saja, 2,8 persen jumlah penduduk itu diketahui 5,9 sampai 6 juta orang pernah bersentuhan dengan narkoba,” jelasnya.

Ia menjelaskan, dengan adanya pusat rehabilitasi ini, dapat menjadi langkah awal mengatasi para pengguna narkoba. Selain peran  dari keluarga dan masyarakat dilingkungan sekitar menjadi salah satu faktor pendukung untuk pencegahan serta support para pengguna agar dapat di terima setelah menjalani rehabilitasi dan kembali kelingkungan sekitar.

Karena itu, jelas Waskito,  memberantas narkoba harus diperkuat mulai dari hulu sampai ke hilir dengan melakukan pendekatan agar dapat merubah stigma masyarakat mengenai para pengguna narkoba ini. Dengan menerima kembali kehadiran pengguna yang telah menjalani rehabilitasi dan dinyatakan sudah bersih dari narkoba akan menimbulkan kepercayaan dalam diri pengguna untuk tidak menjadi pengguna lagi.

“Karena itu kita ada program pasca rehab yakni bagi mantan pengguna yamg tidak memiliki pekerjaan akan mendapatkan bantuan gratis untuk membuka usaha. Dengan begitu akan ada aktivitas ekonomi dan melupakan narkoba,” jelasnya.

Sementara itu Ketua Yayasan Rehabilitasi Ar Rahman, Sahrizal mengatakan, asrama rehabilitasi yang menelan biaya Rp 1,128 miliar tersebut menjadi rujukan nasional untuk para pecandu narkoba yang akan melakukan rehabilitasi. Bahkan para klien binaan (sebutan untuk pengguna narkoba yang akan di rehabilitasi,red) ada yang berasal dari luar Indonesia seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura disamping ada juga dari Provinsi Aceh, Medan, Jambi dan Batam.

“Asrama rehabilitasi ini dapat menampung sampai 150 klien binaan dengan menerapkan tiga program rehabilitasi yang dapat diambil klien binaan yakni program reguler, program sekolah dan program khusus. Program reguler terdiri dari 3 sampai 6 bulan, sedangkan program sekolah 1 sampai dua tahun. Dan program khusus yang diperuntukkan untuk kalangan pengguna yang ingin rehabilitasi tanpa meninggalkan pekerjaannya,” ulasnya.

Hanya saja, kurangnya dukungan dari orang tua klien binaan terkadang menjadi kendala. Sehingga menyebabkan proses rehabilitasi yang dijalankan tidak tuntas.

“Kadang belum habis masa rehabilirasi klien sudah dibawa pulang,”  terangnya.

Lebih lanjut tambahnya, saat ini jumlah pengguna narkoba yang sedang melakukan tahapan rehabilitasi di asrama tersebut ada 46 klien binaan. Terdiri dari 2 perempuan dan 44 laki laki.

“Sedangkan klien binaan yang menjalani rawat jalan sebanyak 127 orang dengan rincian 16 perempuan dan 111 laki laki,” tutupnya.

Resmikan Asrama Rehabilitasi Narkoba, Harnojo Imbau Jauhi Narkoba Dengan mencintai Musholla dan Masjid

Palembang – Walikota Palembang Harnojoyo menghadiri peresmian gedung asrama rehabilitasi narkoba Pondok Pesantren Ar Rahman yang merupakan bantuan hibah dari pemerintah Jepang, Selasa (17/10). Dalam sambutannya, Harnojoyo mengungkapkan, salah satu upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba yang bisa dilakukan yakni dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Pada dasarnya 80% masyarakat kita sudah mengetahui bahaya narkoba, namun karena besarnya pengaruh dan lemahnya keteguhan iman, sehingga masih ada masyarakat yang mengkonsumsi narkoba,” ungkapnya.

Melalui program sholat subuh berjamaah, jelas Harnojoyo dapat menjadi salah satu upaya untuk menghindari narkoba. Karena dengan selalu mendekatkan diri kepada tuhan dan menjalankan segala perintah dan menjauhi semua larangan, keinginan untuk mencoba barang haram tersebut dapat dihindari.

“Masyarakat yang mencintai musholah dan masjid, insya allah dapat menjauhi narkoba,“ tuturnya.

Harnojoyo berharap dengan adanya tempat rehabilitasi tersebut mampu merubah mental dan prilaku dari pengguna narkoba itu sendiri. Karena selain insaf untuk tidak menggunakan narkoba juga mampu menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Mari kita jaga diri kita, keluarga kita, dan lingkungan kita. Agar menjadi masyarakat yang sehat dan bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, dan lingkungannya,”tegasnya.

Sementara itu, Dirjen Rehabilitasi Sosial Penyalahgunaan Napza, Kementerian Sosial RI, Waskito Budi Kusumo menambahkan, narkoba merupakan masalah sosial nomor satu dunia. Yang mana pengguna narkoba saat ini tidak hanya dari usia dewasa saja melainkan sudah menjangkau anak-anak.

“Untuk Indonesia saja, 2,8 persen jumlah penduduk itu diketahui 5,9 sampai 6 juta orang pernah bersentuhan dengan narkoba,” jelasnya.

Ia menjelaskan, dengan adanya pusat rehabilitasi ini, dapat menjadi langkah awal mengatasi para pengguna narkoba. Selain peran dari keluarga dan masyarakat dilingkungan sekitar menjadi salah satu faktor pendukung untuk pencegahan serta support para pengguna agar dapat di terima setelah menjalani rehabilitasi dan kembali kelingkungan sekitar.

Karena itu, jelas Waskito, memberantas narkoba harus diperkuat mulai dari hulu sampai ke hilir dengan melakukan pendekatan agar dapat merubah stigma masyarakat mengenai para pengguna narkoba ini. Dengan menerima kembali kehadiran pengguna yang telah menjalani rehabilitasi dan dinyatakan sudah bersih dari narkoba akan menimbulkan kepercayaan dalam diri pengguna untuk tidak menjadi pengguna lagi.

“Karena itu kita ada program pasca rehab yakni bagi mantan pengguna yamg tidak memiliki pekerjaan akan mendapatkan bantuan gratis untuk membuka usaha. Dengan begitu akan ada aktivitas ekonomi dan melupakan narkoba,” jelasnya.

Sementara itu Ketua Yayasan Rehabilitasi Ar Rahman, Sahrizal mengatakan, asrama rehabilitasi yang menelan biaya Rp 1,128 miliar tersebut menjadi rujukan nasional untuk para pecandu narkoba yang akan melakukan rehabilitasi. Bahkan para klien binaan (sebutan untuk pengguna narkoba yang akan di rehabilitasi,red) ada yang berasal dari luar Indonesia seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura disamping ada juga dari Provinsi Aceh, Medan, Jambi dan Batam.

“Asrama rehabilitasi ini dapat menampung sampai 150 klien binaan dengan menerapkan tiga program rehabilitasi yang dapat diambil klien binaan yakni program reguler, program sekolah dan program khusus. Program reguler terdiri dari 3 sampai 6 bulan, sedangkan program sekolah 1 sampai dua tahun. Dan program khusus yang diperuntukkan untuk kalangan pengguna yang ingin rehabilitasi tanpa meninggalkan pekerjaannya,” ulasnya.

Hanya saja, kurangnya dukungan dari orang tua klien binaan terkadang menjadi kendala. Sehingga menyebabkan proses rehabilitasi yang dijalankan tidak tuntas.

“Kadang belum habis masa rehabilirasi klien sudah dibawa pulang,” terangnya.

Lebih lanjut tambahnya, saat ini jumlah pengguna narkoba yang sedang melakukan tahapan rehabilitasi di asrama tersebut ada 46 klien binaan. Terdiri dari 2 perempuan dan 44 laki laki.

“Sedangkan klien binaan yang menjalani rawat jalan sebanyak 127 orang dengan rincian 16 perempuan dan 111 laki laki,” tutupnya. korankito.com/rika/ria

AN