Lakukan Edukasi Kenalkan Jenis Investasi Berjangka

Foto/ria

Palembang – Kota Palembang akan menjadi kota keempat di gelarnya serangkaian edukasi dan sosialisasi yang digelar PT. Rifan Financindo Berjangka (RFB) dalam upaya menangkal kejahatan investasi bodong dan memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai peluang dan manfaat mengenai investasi berjangka. Chief Business Officer PT Rifan Financindo Berjangka (RFB), Teddy Prasetya mengungkapkan, kejahatan investasi illegal saat ini masih marak ditemukan. Tingginya transaksi illegal di Indonesia memperlihatkan masih banyaknya masyarakat Indonesia yang belum mengenal baik perdagangan berjangka komoditi (PBK).
“Kenapa kita pilih diluar Jakarta. Karena literasi atau tingkat pemahaman masyarakat mengenai investasi berjangka masih sangat sedikit. Terutama masyarakat yang berdomisili di daerah-daerah,” ungkanya saat usai menggelar pertemuan dengan awak, Kamis (12/10).
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan berjangka, jelas Teddy, RFB sudah berdiri lebih kurang 18 tahun dengan mendapatkan lisensi legal dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dengan jumlah nasabah yang tersebar di Sumatera Selatan (Sumsel) mencapai 1.557 nasabah dan 3.200 sumber daya manusia (SDM) tenaga pemasaran yang handal di bidangnya.
“Setiap hari berita saham selalu ada, tetapi perdagangan berjangka sangat jarang. Pemberitaan tentang sektor perdagangan berjangka lebih banyak mengenai penipuan atau investasi bodong,” jelasnya.

Adapun dalam pelaksanaan sosialisasi di Kota Palembang, salah satu agenda yang akan dilakukan adalah menjalin kerja sama dengan Universitas Sriwijaya (Unsri) terkait dengan implementasi program Future Trading Learning Center (FTLC) yang bertujuan memberikan pemahaman sejak dini mengenai industry PBK.

Target jangka panjangnya, mata kuliah PBK masuk ke dalam kurikulum Fakultas Ekonomi Unsri. Teddy berharap masyarakat dapat berinvestasi secara sehat di industri PBK melalui Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) dan Kliring Berjangka Indonesia (KBI). Pasalnya, potensi industri ini sangat besar dan mampu meningkatkan perekonomian Indonesia.

“Masyarakat masih awam dengan jenis investasi ini. Umumnya mereka hanya mengenal saham, obligasi, reksadana, deposito, dan lainnya. Ditambah lagi, citra negatif yang melekat pada pelaku dan perusahaan pialang,” ungkap Teddy.

Untuk di Kota Palembang sendiri, jumlah nasabah baru selama tahun 2017 sebanyak 206 nasabah dengan jumlah SDM sebanyak 500 tenaga pemasaran.

“Kita optimis sampai dengan akhir tahun, penambahan jumlah nasabah baru mencapai 500 nasabah,” jelasnya

Senada disampaikan Direktur Utama BBJ, Stephanus Paulus Lumintang menambahkan, dinamika industri PBK masih punya potensi untuk berkembang dan berkontribusi dalam perekonomian Indonesia.

Asal para pelaku pasar melakukan sosialisasi dan edukasi yang tepat, intensif bagi masyarakat umum dan civitas akademi supaya semua potensi terealisasi. Tentunya juga didukung oleh pemerintah.

“Industri PBK saat ini beroperasi di bawah regulasi yang jelas, lebih aman dari risiko penipuan berkedok investasi yang sering kita dengar,” ucap Paulus.

Ia menjelaskan, peluang investasi untuk Sumsel sendiri terbuka sangat luas. Sumsel yang mayoritas penghasil komoditi kelapa sawit, karet dan batubara memberi peluang besar untuk industry ini agar dapat berkembang. Namun edukasi dan sosialisasi juga membutuhkan kerjasama dengan media untuk memberikan edukasi dan pemahaman ini kepada masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, juga bantuan alat kebersihan berupa kotak sampah untuk Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang sebagai program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk menunjang Palembang sebagai kota bersih, aman, rapi dan indah (BARI).  Korankito.com/ria