Oh, Pencemaran Sungai Musi Masih Dalam Batas Normal

Penampakan Sungai Musi dan Jembatan Ampera dari atas. Foto/hms

Palembang-Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) memastikan pencemaran Sungai Musi masih berada dalam batas normal. Hal ini terkait keluarnya hasil pantauan dari Badan Lingkungan Hidup dan Pertanahan (BLHP) Provinsi Sumsel sepanjang tahun 2016 yang mana mengatakan Sungai Musi mengalami pencemaran berat hingga 50 persen.

“Tidak bisa langsung mengungkapkan kalau Sungai Musi itu tercemar, harus benar-benar diteliti terlebih dahulu. Terakhir kami melakukan penelitian dua minggu lalu, kadarnya masih diambang batas normal,” ungkap Kepala DLHK Palembang, Faizal AR, Selasa (10/10).

Berita Sejenis
1 daripada 5
Menurut Faizal, pihaknya rutin melakukan pengecekan kadar pencemaran Sungai Musi. Bahkan, pihaknya juga telah melaksanakan pengecekan sample air yang dilakukan tiga kali dalam satu tahun.

“Jadi masyarakat tidak perlu khawatir, mengingat Sungai Musi ini merupakan sumber air bagi kita semua, Pemkot memastikan kadar airnya masih bagus,” imbuhnya.

Ia juga mengimbau kepada masyarakat Palembang agar tetap menjaga kebersihan, utamanya Sungai Musi guna menghindari peningkatan tingkat pencemaran sungai.

“Itulah kenapa Walikota Palembang terus menggalakkan program gotong royong. Agar hal ini bisa dihindari, bahkan kita berharap nantinya sungai kebanggaan kita ini airnya bisa jernih sehingga akan berdampak baik pada generasi yang akan datang,” pungkasnya.

Faizal menambahkan, pencemaran sungai kebanyakan disebabkan kebiasaan masyarakat yang buang sampah sembarangan yang langsung buang sampah di sungai. “Masih didominasi sampah dari masyarakat, kalau dari perusahaan itu ada tapi tidak banyak karena perusahaan itu sudah ada amdal dan lainnya,” pungkasnya.

Diketahui sebelumnya, Sekretaris BLHP Provinsi Sumsel, Arison Bambang menyebutkan, kondisi Sungai Musi pencemarannya sudah masuk kategori berat yang mencapai 50 persen. Hasil itu diperolehan dari data yang dikelola sepanjang 2016, sedangkan untuk data di 2017 pihaknya masih dalam pemantauan.

“Sepanjang 2016 dari hasil pantauan yang telah dikelola, kondisi Sungai Musi sudah 50 persen tercemar berat,” ungkap Arison yang didampingi Kasi Pengelolahan Sampah, B3 dan Limbah B3, Ali Husin, belum lama ini.

Dimana menurutnya, dari hasil laboratorium terhadap kualitas air sungai yang berada di provinsi pada 2016 tersebut pengujian menunjukkan beberapa parameter melebihi baku mutu, seperti e-coli, zat besi dan deterjen.

“Untuk pencemaran di sungai itu memang ada tiga parameter dan pencemarannya berbeda-beda. Tapi mayoritas sungai di Sumsel mengandung bakteri e-coli, sudah melebihi ambang batas,” katanya.

Dijelaskan dia, bakteri itu muncul karena hasil pembuangan kotoran manusia atau tinja. Sebab, kebanyakan warga di Sumsel, terutama yang bermukim di pinggiran sungai, rata-rata membuang air besar langsung ke sungai. “Mereka tidak menggunakan WC, langsung nyemplung (buang) ke sungai. Itu makanya terkontaminasi e-coli,” tutupnya. korankito.com/rika
AN