Soal Penggusuran, Camat Muara Lakitan Bantah Terima Upeti

MUSIRAWAS, KORANKITO.COM – Polemik tapal batas antara Desa Semangus dan Desa Sungai Pinang Kecamatan Muara Lakitan belum juga clear namun pihak perusahaan dalam hal ini PT Bina Sains Cemerlang (BSC)sudah melakukan penggusuran.  Tak hanya itu santer beredar kabar untuk memuluskan kerja perusahaan Camat Lakitan terima uang ratusan juta agar mengeluarkan izin penggusuran.

Padahal berdasar surat Kepala Desa Sungai Pinang, Lesi Susanti, kepada PT Bina Sains Cemerlang, tanggal 19 September 2018, Pemerintah Desa Sungai Pinang meminta pihak perusahaan tidak melakukan penggusuran lahan di daerah selatan, sebelum ada ketetapan tapal batas yang sah antara Desa Sungai Pinang dengan Desa Semangus Baru, Kecamatan Muara Lakitan, dari Pemerintah Kabupaten Musi Rawas..

Dalam surat itu, dari hasil pemeriksaan aparatur Pemdes Sungai Pinang, tanggal 17-18 September 2018, didapati di lokasi selatan izin lahan plasma PT BSC, sudah digusur. Selain itu, berdasar laporan dan pengaduan masyarakat, juga ada lahan warga yang belum diganti rugi.

Camat Muara Lakitan, Prewan Novio menjelaskan proses penggusuran lahan di Desa Semangus dilakukan setelah ada kesepakatan antara PT BSC dengan masyarakat.  Dirinya pun menampik kalau terlibat langsung soal ganti rugi lahan.

“Saya bersama unsur tripika hanya menyaksikan proses pembayaran ganti rugi yang dilaksanakan secara simbolis beberapa waktu lalu.  Mana mungkin pihak kecamatan terlibat langsung dalam proses jual beli,” jelasnya.

Proses pembayaran ganti rugi lahan lebih kurang 400 hektar tersebut dijelaskan Prewan melalui sistem transfer ke rekening warga pemilik lahan.  “Berapa nilai ganti rugi perhektar saya kurang paham, silahkan tanyakan langsung ke pihak perusahaan,” tambahnya.

Tak hanya tidak mengetahui nominal angka yang dibayarkan pihak perusahaan, Prewan juga membantah isu soal uang pelicin senilai Rp 450 juta yang ia terima agar izin penggusuran dikeluarkan.

“Saya tidak pernah menerima uang dari perusahaan.  Apalagi dengan nominal sebesar itu, kalu ado la pacak bedandan mobil aku, tetapi saya tidak tahu kalau ada yang jual nama saya.   Kalian telpon saja orang perusahaan soal uang tersebut, kalau mereka memberi dimana mereka memberi, berapa uangnya dan kapan mereka memberi kepada saya,” tegasnya.

Hanya saja Prewan menjelaskan kalau polemik penggusuran lahan plasma adalah masalah politis.  Terlebih wilayah tersebut berada di tapal batas. Atau dengan kata lain Prewan menduga ada pihak-pihak lain yang sengaja menunggangi masalah ini untuk kepentingan pribadi

“Saya rasa ada pihak-pihak punya kepentingan ikut memperkeruh masalah ini,” tambahnya

Menyikapi hal ini Humas PT BSC, A Yani dihubungi melalui sambungan telepon mengaku pihak perusahan sudah menggelontorkan uang senilai lebih kurang Rp 3 miliar untuk ganti rugi lahan seluas 400 hektar yang ada di Desa Samangus.  Hanya saja besaran nominal antara satu warga pemilik lahan dengan warga lainnya tidak sama, semua tergantung negosiasi pihak perusahaan dengan pemilik lahan.

“Pembayaran ganti rugi sudah dilakukan sejak Mei lalu, setelah pembayaran ganti rugi selesai baru pihak perusahaan melakukan penggusuran lahan Di wilayah Desa Semangus,”jelas Yani.

Yani juga membantah kalau pihak perusahaan sudah memberi imbalan pada Camat agar mengeluarkan izin penggusuran.  “Kami tidak pernah beri uang Rp 450 juta pada camat apalagi memberinya dalam bentuk lahan. Isu tersebut tidak benar, toh ini murni untuk masyarakat kan,” jelasnya

Disinggung soal izin dari Pemkab Mura yang belum keluar Yani menegaskan kalau sejauh ini pihaknya akan mengisolasi dulu batas yang sudah dibebaskan dan yang belum. Maka dari itu saat ini proses penggusuran di stop sembari menunggu kelengkapan lain.

” Data otentik tapal batas yang punya hanya Desa Samangus sementara Desa Sungai Pinang tidak ada. Makanya kami dahulukan ganti rugi lahan Desa Semangus.  Bila tapal batas Sungai Pinang sudah jelas dan instruksi Bupati Mura sudah ada baru ganti rugi untuk Desa Sungai Pinang bisa dilakukan. Yang jelas soal tapal batas kami berharap masalah cepat selesai sehingga kami bisa dengan segera melakukan penggusuran dan penanaman bibit plasma,”pungkasnya. (dhia/mbam)

AN