Kongres XXIV PWI di Solo, Menegakkan Pers Kebangsaan yang Independen

SURAKARTA, KORANKITO.COM – Kongres XXIV Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), yang akan berlangsung 27-30 September 2018 di kota Solo, tidak sekedar kongres biasa. Organisasi kewartawanan terbesar di Tanah Air, yang lahir di kota ini 9 Februari 1946, mengirim pesan kuat kepada seluruh insan pers, seperti yang tertulis dalam tema : “Menegakkan Pers Kebangsaan yang Independen, Profesional, dan Berintegritas.”

Tema itu sangat relevan dengan tantangan Indonesia ke depan. Antara lain, dalam menghadapi dinamika demokratisasi (Pemilihan Legislatif/Pileg dan Pemilihan Presiden/Pilpres 2019), kedaulatan NKRI dan kemandirian bangsa di tengah globalisasi, dan pertarungan dua super power — yang berdampak pada gejolak ekonomi, memudarnya jati diri dan budaya bangsa yang dirongrong mental korup yang menjadi-jadi, hukum yang tidak berkeadilan, tsunami informasi yang dipicu dan dipacu teknologi dan kecerdasan buatan, dan lain-lain.

Oleh karena itu, pilihan Solo sebagai tempat kongres, mengisyaratkan PWI kembali ke khittah. Dalam arti saat pendiriannya 72 tahun lalu menyatakan bahwa

“tiap wartawan Indonesia berkewajiban bekerja bagi kepentingan Tanah Air dan Bangsa serta selalu mengingat akan Persatuan Bangsa dan Kedaulatan Negara”.

Dalam pada itu, kondisi mutakhir bangsa kita saat ini membutuhkan wartawan yang harus faham bahwa pertama-tama dia adalah orang Indonesia yang harus mengedepankan rasa cinta tanah air, baru kemudian dia seorang wartawan yang bertugas untuk membantu bangsanya melalui pemberitaan yang inspiratif, solutif, memikirkan kemajuan bangsa dan negara.

Dengan latar belakang seperti itu, tanggung-jawab Ketua Umum pengganti Margiono (MG) yang telah memimpin PWI dua periode berturut-turut, tidak ringan. Namun dengan munculnya kandidat-kandidat yang ada, kita bisa berharap, berbagai hal yang telah dicapai Margiono, dapat diteruskan, dikembangkan, bahkan ditambah dengan program-program kreatif lainnya. Para calon Ketua Umum itu Hendry Ch.Bangun (Kompas), Teguh Santosa (Kantor Berita Politik RMOL), Sasongko Tedjo (Suara Merdeka), Atal S. Depari (sportanews.com), dan Ahmad Munir (Antara).

Menurut Ketua Panitia Pengarah Ilham Bintang, masing-masing kandidat, harus menandatangani pakta integritas. Diantaranya berjanji tidak terlibat dlm politik uang, guna memenangkan sebagai ketua umum. Setelah terpilih, tidak akan terlibat dan membawa-bawa PWI dalam politik praktis. Adapun, dalam  proses pemilihan Ketua Umum PWI, jika tidak bisa musyawarah dan mufakat, disepakati lewat pemilihan suara, yang harus dilakukan dengan sepenuhnya mengacu pada PD/PRT dan kaidah Kode Etik Jurnalistik.

Kongres kali ini akan diikuti sekitar 150 orang peserta dan peninjau. Selain para pengurus Harian PWI Pusat, PWI Provinsi dan se Indonesia, plus PWI Surakarta sebagai peserta serta unsur-unsur PWI lainnya sebagai peserta, ada pula peninjau dari unsur PWI maupun luar PWI. Antara lain Dewan Pers, Serikat Penerbit Surat Kabar, organisasi perusahaan periklanan, radio, televisi, aliansi jurnalis, dan organisasi pers nasional negeri tetangga (Malaysia).

Kiprah 10 Tahun Margiono
Dalam urutan Ketua Umum PWI sejak organisasi ini berdiri tahun 1946 hingga melampaui Orde Lama, Orde Baru, Reformasi dan pasca-reformasi, dalam rentang waktu 72 tahun, Margiono tercatat pada urutan ke-14.  Pertama kali Soemanang (1946 – 1947, 1949 – 1950), dilanjutkan (2) Usmar Ismail (Februari – Nopember 1947), (3) Djawoto (1950 – 1951, 1951 – 1952, 1961 – 1963), (4) T. Sjahril (1953 – 1955, 1955 – 1959, 1959 – 1961), (5) Abdul Karim Daeng Patombong — A. Karim D.P. (1963 – 1965) ,(6) Mahbub Djunaidi (1965 – 1968 – 1970), (7) B.M. Diah / Rosihan Anwar (1970 – 1973), (8) Harmoko (1973 – 1978, 1978 – 1983), (9) Atang Ruswita ( Maret 1983 – Nopember 1983), (10) Zoelharmans (1983 – 1988), (11) M. Soegeng Widjaja (1988 – 2003), (12) Sofyan Lubis (1993 – 1998), (13) Tarman Azzam (1998 – 2003, 2003 – 2008), dan (14) Margiono (2008 – 2013, 2013 – 2018).

PD/PRT PWI sejak Zulharman mengatur, mengatur bahwa Ketua Umum PWI yang telah memimpin selama dua periode berturut-turut,  tidak boleh mencalonkan diri kembali sebagai Ketua Umum. Dengan demikian, dapat dipastikan Margiono tidak akan maju. Margiono dari Jawa Pos Group terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat PWI periode 2008-2013 dalam Kongres PWI di Banda Aceh, berlanjut dalam Kongres di Banjarmasin, 2013.  

Selama menjabat Ketua Umum PWI, ia menitik beratkan pada pendidikan, kompetensi, dan profesionalisme wartawan. Program lokomotif untuk itu berupa Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI), Sekolah Jurnalisme Kebudayaan (SJK), Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Terkait dengan peringatan Hari Pers Nasional, meluncurkan Piagam Palembang, memberikan berbagai penghargaan kepada para wartawan berprestasi dalam bentuk Press Card Number One (PCNO), Medali Emas Spirit Jurnalisme, penerbitan Ensiklopedi Pers Indonesia dan buku-buku jurnalistik, biografi, hingga seni budaya.

Paling fenomenal, Margiono berhasil mengajak para pemangku kepentingan Pers Tanah Air, merayakan HPN setiap 9 Februari, sebagai momentum mengalirnya berkah pembangunan provinsi yang menjadi tuan rumah. [Humas/mbam]

AN