Bandar Sabu Kelas Kakap asal PALI ‘Roboh’ Diterjang Timah Panas

Jenazah Haryanto saat tiba di RS Bhayangkara Palembang. foto/depe.

PALEMBANG, KORANKITO. COM – Haryanto (30), bandar narkoba kelas kakap asal Kabupaten PALI ini merenggang nyawa usai ditembak mati anggota Direktorat Reserse (Ditres) Narkova Polda Sumsel.

Ia ditembak lantaran mencoba melawan dengan merebut pistol polisi yang melakukan penangkapan di Desa Air Itam, Kecamatan Penukal, Kabupaten PALI, Sumsel, Kamis (6/9) sekitar pukul 13.00.

Berita Sejenis
1 daripada 70

Selain Haryanto, polisi juga memberikan tindakan tegas kepada rekannya yakni Didik (26) di bagian paha sebelah kanan. Sedangkan tersangka lainnya Rizal berhasil meloloskan diri dalam penggerebekan tersebut.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnai Adinegara didampingi Direktur Reserse Narkoba Polda Sumsel Kombes Pol Farman mengatakan, penangkapan itu bermula ketika pihaknya mendapatkan informasi warga.

Menindaklanjuti informasi itu, lanjut Kapolda, pihaknya langsung melakukan penyelidikan dan melakukan penangkapan. Namun, Haryanto sempat memberikan perlawanan dengan merebu pistol petugas.

“Kita tembak di tangan kiri tetap melawan. Ditembak di punggung masih berusaha kabur. Sehingga kita berikan tembakan lagi terkena di belakang tembus ke dada. Saat dibawa ke rumah sakit, dia meninggal dunia,” katanya.

Saat gelar perkara dan barang bukti di RS Bhayangkara, Kamis (6/9) malam, Zulkarnain mengungkapkan, dua tersangka lainnya Didik dan Rizal melarikan diri ke dalam kebun karet. Anggotanya melakukan pengejaran.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara saat bertanya dengan tersangka Didik. foto/depe.

“Didit berhasil kita amankan setelah sebelumnya juga diberi tindakan tegas. Pelaku Rizal melarika diri masuk ke kebun karet. Kita mengimbau segera menyerahkan diri, karena akan terus kita kejar,” katanya.

Kapolda menegaskan, pelaku yang meninggal berstatus sebagai bandar. “Kita amankan dua kilogram sabu. Sebelumnya ada lima kilo, mungkin tiga kilo sudah dijual. Sabu ini asal Aceh, namun kita kembangkan lagi,” jelasnya.

Sementara itu, Didik mengatakan dirinya hanya bertugas menjaga rumah Haryanto. “Biasanya setiap kali sabu datang jumlahnya lima kilogram pak. Saya tidak tahu tiga kilogram lagi kemana. Apa sudah dijual, karena saya hanya bekerja di rumah dia,” jelasnya.

Ia mengatakan, Hariyanto sudah menjalani bisnis haram itu sejak tiga tahun terakhir. “5 kilogram itu paling lama dua bulan sudah habis. Dijual di daerah sana (PALI) dan ada juga di Jambi,” pungkasnya. (depe)

AN