Bandit Curanmor di Kampus ‘Keok’ Ditembak Polisi

Kedua pelaku usai mendapatkan perawatan di RS Bhayangkara. foto/depe.

PALEMBANG, KORANKITO. COM – Spesialis pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang sering beraksi di perguruan tinggi yakni M Fikri Al Ashar (24) ditembak Unit Reskrim Polsek Kemuning Palembang.

Pemuda asal Kecamatan Banyuasin I, Kabupatwn Banyuasin ini dihadiahi timah panas oleh polisi lantaran berusaha kabur ketika ditangkap di kawasan Kecamatan Plaju Palembang, Rabu (5/9) sekitar pukul 13.00.

Berita Sejenis
1 daripada 46

Selain dia, polisi juga memberikan tindakan tegas terukur kepada Adi Saputra (22) warga Kelurahan Mariana, Kecamatan Banyuasin I, Banyusin yang bertindak sebagai penjual motor hasil curian Fikri.

Kapolsek Kemuning Palembang AKP Robert P Sihombing mengatakan, tertangkapnya tersangka bermula ketika pihaknya menerima laporan korban yang ditindaklanjuti anggotanya dengan penyelidikan.

“Kita melakukan penyelidikan dan memeriksa rekaman kamera CCTV yang berada di lokasi kejadian. Dari situlah anggota mengantongi identitas pelaku dan melakukan penangkapan,” katanya saat ditemui di RS Bhayangkara.

Tersangka Fikri ketikan mendapatkan perawatan medis. foto/depe.

Ia menerangkan F merupakan spesialis curanmor di sejumlah universitas dan rumah-rumah kos. Diantaranya 13 kali di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah, 5 Kali di Unsri dan 5 kali di rumah kos di kawasan Dwikora.

“Namun masih akan terus kita kembangkan, karena tidak menutup kemungkinan ada TKP lainnya. Selain F, kita amankan rekannya A yang bertugas menjual motor hasil curian F,” tambah Robert.

Robert menjelaskan, modus operandi tersangka dengan cara menyamar sebagai mahasiswa. Setelah keadaan lengah dan aman, pelaku mulai melancarkan aksinya menggunakan kunci latter T yang telah disiapkan.

“Kita kenakan Pasal 363 KUHP dengan ancaman kurungan di atas lima tahun penjara. Mereka berdua merupakan residivis dan dua kali masuk penjara dengan kasus curanmor dan jambret,” tambah Robert.

Tersangka Adi saat mendapatan perawatan medis. foto/depe.

Sementara itu, tersangka Fikri mengakui perbuatannya. Ia mengatakan sudah mencuri motor sebanyak 23 kali, diantarnya 13 di kampus UIN, 5 di kampus Unsri dan 5 di rumah kos di kawasan Dwikora.

“Motor yang berhasil dicuri, saya berikan kepada Adi untuk dijualkan di kawasan Selapan, OKI. Harganya berbeda-bedak, tergantung jenis motornya. Sudah dari tahun 2017 saya mencuri pak,” ujarnya.

Warga asal Kelurahan Mariana, Kecamatan Banyuasin I, Kabupaten Banyuasin ini mengungkapkan setiap satu bulan sekali bisa mencuri dua  sampai tiga motor. “Saya sendirian pak, dengan kunci T,” cetus Fikri.

Sedangkan tersangka Adi mengungkapkan motor yang diberikan Fikri dijualkannya kepada SW yang tinggal di daerah Selapan. Menurutnya, satu motor yang dijual dia mendapatkan uang sekitar Rp500 ribu.

“Fikri mengantarkan barangnya ke rumah pak. Kemudian saya bawa ke Selapan dan dijual kepada penadahnya SW. Harganya tergantung jenis motornya pak. Paling besar dapat uang Rp500 ribu,” pungkasnya. (depe)

AN