Pelaku Yang Buron Tantang Polisi?

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara. foto/dok.

Palembang- Satu pelaku perampokan disertai pembunuhan sopir taksi online (taksol) Tri Widyantoro berinisial HK yang masih buron kabarnya menantang pihak kepolisian. Hal ini diungkapkan langsung oleh Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara.

“Informasinya, satu pelaku yang belum tertangkap ini malah menantang polisi. Jadi silahkan saja. Kita sudah mengetahui keberadaannya, saat ini anggota masih melakukan pengejaran,” ujarnya saat dimintai konfirmasi.

Berita Sejenis
1 daripada 66

Kendati demikian, jika HK menyerahkan diri, pihaknya akan menjunjung tinggi hak azazi manusian (HAM) dan melindunginya. “Oleh karena itu, lebih baik menyerahkan diri saja. Kalau tidak, kami sikat betul,” tutur Zulkarnain.

Ia menjelaskan, dengan menyerahnya Tyas Dryantama (19), kini tiga dari empat pelaku perampokan disertai pembunuhan sudah diamankan oleh pihaknya. Bahkan, satu tersangka ditembak mati lantaran memberikan perlawanan ketika ditangkap.

Dirinya juga mengapresiasi etikad baik orangtua Tyas, yang menyerahkan anaknya ke Jatanras Polda Sumsel untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. “Setelah kami ancam menghabisi pelaku, ayahnya menyeragkan Tyas,” jelasnya.

Masih dikatakan Kapolda, Tyas sendiri berperan memegang tangan serta ikut membuang mayat korban ke semak-semak di kawasan Banyuasin. “Nanti kami akan membimbing pelaku ini agar kedepan lebih baik lagi,” tuturnya.

Tyas : Saya Tidak Ambil Hasil Rampokan

Tyas menjalani pemeriksaan. foto/ist.

Palembang- Setelah menyerahkan diri kepihak kepolisian. Tyas Dryantama (19) tersangka perampokan disertai pembunuhan sopir taksi online Tri Widyantoro menjalani pemeriksaan di Mapolda Sumetara Selatan (Sumsel), Senin (2/3) siang.

Pemuda yang tinggal di Dusun III, Desa Mulya Jaya, Kecamatan Lalan, Kabupaten Muba ini mengaku dirinya tidak mengambil sepeser pun hasil rampokan. “Saya memang ditawari Pak, tapi tidak saya ambil karena takut, saya masih memikirkan kuliah Pak,” katanya.

Dirinya mengaku, setelah aksi itu, ia sempat ingin melaporkannya kepihak berwajib. Namun, hal itu tidak dilakukannya karena takut dengan ancaman tersangka HK. “Dia bilang, kalau melapor saya juga bakal ditangkap. Jadi saya takut, makanya tidak melapor,” katanya.

Ia mengungkapkan, hanya ikut memegang tangan korban dan yang mempunyai rencana menghabisi nyawa korban adalah Bayu, Poniman, serta HK. “Kalau saya hanya ikut memegang tangannya saja dan membuang korban di semak-semak,” tuturnya.

Dirinya mengatakan, kejadiannya berawal ketika ketiga temannya datang ke Palembang merencanakan aksi perampokan. Kemudian, Kamis (15/2) siang, saat baru pulang dari kuliah, teman-temannya datang ke kosan menanyakan tali tambang.

Poniman menyuruh Bayu untuk memesan gocar dari belakang Istana Gubernur dengan tujuan Kenten Laut. Ia sempat tidak mau, namun ketiga temannya memaksa untuk ikut dan tiba di lokasi, mereka pun melancarkan aksinya. Korban yang tewas dibuang di semak belukar.

“Saya menyesal Pak dan sedih kalau ingat kejadian itu,” jelas mahasiswa perguruan tinggi negeri di Sumsel ini.

Seperti diketahui, Tri Widyantoro sopir taksi online yang tinggal di Jalan Letnan Murod, Lorong Sakura, Kelurahan Srijaya, Kecamatan Alang-alang Lebar, menghilang sejak 15 Februari usai mengantarkan penumpang ke kawasan Kenten Laut.

45 hari kemudian, korban ditemukan tinggal tulang belulang di semak belukar di Parit 6, Sungai Dungun, Desa Muara Telang, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin. Penemuan ini berawal dari pihak kepolisian yang berhasil menangkap Poniman dan Bayu.

Satu tersangka atas nama Poniman ditembak mati karena saat ditangkap memberikan perlawanan kepada petugas. Hal yang sama juga dilakukan oleh Bayu, lantaran ingin kabur sebelas pelor aparat bersarang di kedua kakinya. korankito.com/depe.

AN