Bisa Dipercaya

Harnojoyo Terima Gelar “Cek Arno”

Pemasangan tanjak sebagai tanda kehormatan atas diberinya gelar “Cek Arno” kepada Walikota Palembang Harnojoyo oleh Pemangku Adat Palembang. foto/ist

Palembang – Melalui kegiatan rembug adat, Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Kebudayaan terus menjalin komunikasi baik keseluruh tokoh masyarakat, agama dalam wadah rembug adat guna menyukseskan Asian Games 2018 mendatang. Dengan membuka ruang musyawarah peran serta semua eleman wajib melestarikan adat budaya Palembang.

Walikota Palembang Harnojoyo mengatakan, jika adanya ruang rembug adat ini adalah salah satu jembatan komunikasi antar pemangku adat Kota Palembang ke pemerintah guna memberikan solusi dan masukan dalam membangun Kota Palembang dan budaya Palembang nian.

Berita Sejenis
1 daripada 3.510

“Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih atas pemberian gelar Cek kepada saya dengan sebutan Cek Arno. Sebenarnya berdasarkan sejarah memang pada dasarnya saya keturunan wong Palembang,” katanya, Rabu (20/12).

Meskipun baru pertama kali acara ini dilakukan, lanjutnya, namun kedepan nanti wajid dilakukan secara rutinitas bahkan dimasukan ke Perwali. “Mengenai pakaian saya sangat sepakat untuk diwajibkan pakaian ini pada hari jumat dan dimasukan ke kurikulum pendidikan jadi bahasa khas ini jangan dihilangkan,” ujarnya.

Senada, Ketua Rembug Adat Kota Palembang Alimudin Halim menuturkan, kegiatan budaya kota ini harus menjadi suatu kebiasaan dengan mempopulerkan panggilan sebutan Cek kepada setiap orang. Kemudian pada hari Jum’at diwajibkan kepada instansi pemerintah menggunakan baju khas adat Kota Palembang.

“Alhamdulilah secara langsung kami memberikan gelar Bapak Harnojoyo dengan sebutan Cek Arno. Selain itu juga dengan diberikannya gelar tersebut kami juga memberikan tanjak sebagai tanda kehormatan atas diberikanya gelar tersebut,” jelasnya usai pemberian gelar di ballroom Atyasa.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Sudirman Teguh menambahkan, ini merupakan suatu kegiatan dimana ketua adat dan pemerintah saling membuka dan menerima masukan guna mencapai pelestarian Kota Palembang ini.

“Seperti halnya bahasa asli wong kito benar-benar harus menjadi identitas “Wong Kito” tentunya. Dalam hal ini juga kegiatan ini bisa memacuh generasi muda untuk mewujudkan Palembang nian di era zaman yang sudah maju ini,” pungkasnya. (ril/ejak)