Bisa Dipercaya

135 Ton BBM Ilegal Diamankan

Istri sakit menjadi alasan Suherman alias Bokcik tak lengkapi dokumen.

KORANKITO/IST.

Banyuasin- Dit Polairud Polda Sumsel berhasil mengamankan 135 ton bahan bakar minyak (BBM) ilegal dari tongkang Aneka Usaha di peraiaran Sungai Musi, Pulau Salah Nama, Kabupaten Banyuasin.

Selain BBM ilegal, polisi juga mengamankan Suherman alias Bokcik nahkoda kapal tugboat Titian Abadi yang menarik tongkang berikut dua anak buah kapal (ABK).

Berita Sejenis

Kids Zaman Now Menguncangkan Dunia

Tim Satgas Lubuklinggau Cek Stok Jelang Natal

Temani Cari Ponsel, Pelajar SMA Diperkosa

1 daripada 3.081

Berdasarkan data yang dihimpun, penangkapan itu berawal ketika kapal KP Tekukur 5010 yang dinahkodai kapten kapal Kompol Jimmy HM Pakpahan dari Dit Polairud Polda Sumsel sedang melakukan patroli pengamanan perairan wilayah Sumsel.

Anggota memergoki kapal pengangkut BBM ilegal tersebut sedang berlayar, sehingga dilakukan pengejaran dan berhasil dihentikan oleh kapal KP Tekukur 5010. Ketika dilakukan pemeriksaan, ternyata barang yang dibawa tidak dilengkapi dokumen alias ilegal.

“Nahkoda kapal tidak bisa menunjukan surat izin angkut, sehingga BBM yang dibawanya kita amankan. Rinciannya 60 ton solar bersubsidi dan 75 ton premium non subsidi,” ujar Direktur Polair Polda Sumsel Kombes Pol Robinson DP Siregar.

Ia menyebutkan, bbm ilegal itu diamankan Sabtu (2/12) di peraiaran Banyuasin. Hanya saja, ditetapkan sebagai kasus pelanggaran setelah satu hari penangkapan dikarenakan nahkoda tidak bisa menunjukan dokumen dari Kementerian ESDM c.q Dirjen Migas.

“Memang dari Pertamina, tapi tidak memiliki dokumen lengkap, jelas ini pelanggaran. BBM ini diperuntukkan untuk nelayan di Sungsang, tersangka mengakui sudah 10 tahun mengangkut BBM, tapi baru kali ini tidak dilengkapi surat izin,” tambahnya.

Pihaknya menjerat nahkoda Suherman dengan Pasal 53 Huruf B UU RI Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Migas. Selain itu juga disangkakan dengan Pasal 294 Ayat 1, Pasal 302 Ayat 1, dan Pasal 303 Ayat 1 UU RI Nomor 17 tahun 2008 Tentang Pelayaran.

“Untuk nahkoda dan dua ABK tidak ditahan, karena ancaman pidananya dibawah lima tahun. Namun, pastinya kasus ini terus kita kembangkan dan barang bukti juga sudah kita amankan,” jelas Robinson.

Di sisi lain, Suherman mengatakan dirinnya tidak melengkapi dokumen BBM yang dibawanya karena kendala istri yang sedang sakit. Sehingga ia memutuskan untuk tidak mengurus dan memilih untuk berlayar.

“Minyak saya ambil dari Dipo Pertamina di Keramasan dan saya sebagai nahkoda kapal angkut minyak ini sudah 10 tahun. Memang baru kali ini suratnya tidak lengkap, karena saya tidak semat mengurusnya karena istri sakit,” kilahnya. Korankito.com/depe.