Bisa Dipercaya

Kelurga NF Gembira, Ican Belut Divonis Hukuman Mati

Terdakwa saat menjalankan proses persidangan. KORANKITO/DEPE,

Palembang- Usai mendengar putusan hakim, keluarga NF (8) bocah kelas dua sekolah dasar yang menjadi korban kebiadaban Irsan alias Ican Belut (32) bersorak gembira.

Hal itu dikarenakan Ican belut divonis hukuman mati oleh majelis hakim yang diketuai Subur Prasetyo dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Palembang, Selasa (6/12) siang.

Berita Sejenis
1 daripada 2

“Kami berterima kasih kepada majelis hakim yang menjatuhkan hukuman setimpal bagi dia (terdakwa). Selama ini kami sangat resah atas perbuatan dia,” ucap kakek korban Maarif.

Di sisi lain, majelis hakim menilai perbuatan terdakwa termasuk kejam dan sadis. Sehingga kelurga korban dan masyarakat sekitar menjadi trauma serta ketakutan.

Apalagi tidak terbukti dalam melakukan perencanaan pembunuhan secara bersama-sama. Itu artinya terdakwa Ican adalah pelaku utama dalam kasus tewasnya NF.

“Terdakwa terbukti melanggar Pasal 81 Ayat I Jo Pasal 76 D Undang-Undang No 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Undang-Undang Tahun 2012 Tentang Perlindungan Anak,” kata Subur Prestyo.

“Selain itu, melanggar Pasal 340 KUHP Tentang Pembunuhan Berencan. Oleh karena itu, menjatuhkan hukuman mati terhadap terdakwa Irsan alias Ican,” tambahnya.

Atas putusan ini, majelis hakim memberikan waktu selama satu minggu sebelum menentukan sikap terhadap terdakwa dan kuasa hukumnya.

“Kami pikir-pikir yang mulia,” ujar Kuasa Hukum Terdakwa dari Posbakum Palembang Rizal.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Purnama Sofyan  menolak nota pledoi atau pembelaan yang dibacakan kuasa hukum terdakwa Andreas.

Sebelumnya, JPU menuntut terdakwa Irsan alias Ican Belut dengan pidana mati karena terbukti melakukan pembunuhan berencana sesuai dengan Pasal 340 Jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUHP Tentang Pembunuhan Berencana dan Turut Serta Melakukan Pembunuhan.

Sedangkan untuk terdakwa, Andreas dituntut dengan pidana penjara 20 tahun sesuai Pasal 340 Jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUHP sesuai perumusan dalam Pasal 81 Ayat 1 Jo Pasal 76 D UU No 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 56 ke 1 dan 2 KUHP.

“Putusan majelis hakim terhadap terdakwa Irsan sudah sangat tepat. Selain untuk membuat efek jera terhadap pelaku dan juga agar kejadian kekerasan seksual terhadap anak dibawah umur tidak terjadi lagi,” jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, perbuatan terdakwa bermula dari Irsan memanggil korban NF untuk masuk kedalam rumah dan dibawah kedalam kamar lalu diperkosa dan disodomi.

Saat korban sekarat terdakwa Irsan memasukan tanganya kedalam anus korban kemudian menghabisi nyawa korban dengan cara dicekik lalu kembali diperkosa.

Kemudian, dimasukan kedalam karung dan disimpan dibawah ranjang untuk dibuang ke sungai musi namun terlebih dahulu diketahui. Korankito.com/depe.