KPAD: Guru Seharusnya Lebih Waspada

Eric Valensia (14), pelajar Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 5 Palembang harus dilarikan ke Rumah Sakit (RS) AK Ghani Palembang karena mengalami penusukan. Foto/ist

Palembang – Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Palembang, Romi Afriansyah mengungkapkan, adanya kelalaian dari sekolah dalam hal ini pihak guru menyebabkan terjadinya insiden penusukan yang dilakukan siswa SMP di tengah keramaian saat acara hari cuci tangan sedunia di Kambang Iwak kemarin. Yang mana seharusnya siswa yang dibawa untuk mengikuti suatu acara di tempat keramaian tidak boleh lepas dari pengawasan.

“Itukan kegiatan di keramaian, guru, harusnya lebih waspada,” ujarnya.

Agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi, jelas Romi, pengawasan di sekolah harus lebih di tingkatkan lagi, dengan rutin melakukan razia disetiap lokal belajar. Mengingat usia pelajar merupakan usia yang masih sangat labil. Sehingga rentan melakukan tindakan-tindakan tanpa memikirkan akibatnya.

“Untuk itulah peran guru bimbingan konseling (BK) yang ada di sekolah-sekolah. Karena bahaya kenakalan pelajar tidak hanya mengakses video pornografi dan perkelahian pelajar saja. Tapi perilaku pelajar yang membawa senjata tajam juga harus diantisipasi,” jelasnya.

Namun demikian, peran sekolah tidak akan bisa maksimal tanpa didukung peran orang tua dan aparat pemerintah. Mengingat persoalan anak ini merupakan masalah yang cukup kompleks, dukungan disemua lini sektor harus ada.

“Khususnya pembinaan di sekolah-sekolah yang tidak hanya melibatkan pihak sekolah, tp juga orang tua, aparat kepolisian dan instansi terkait lainnya,” imbuhnya

Terkait peran KPAD sebagai lembaga khusus pendampingan dan pemerhati anak-anak tambahnya, pihaknya saat ini sudah meluncurkan program Operasi Kasih Sayang. Yang mana program ini bertujuan untuk menciptakan sekolah ramah anak. Dan merupakan program dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pusat.

“Untuk program itu, kita akan mendata kasus-kasus yang ada di sekolah dari SD, SMP dan kedepannya ke tingkat SMA juga, seperti perkelahian antar siswa, siswa yang memiliki kelainan psikologi. Nantinya akan bekerjasama dengan guru bimbingan konseling (BK) yang ada disekolah, jadi dapat diketahui anak tersebut nakal, kurang disiplin dan lainnya,” ulasnya.

Dengan adanya program ini, diharapkan kejadian seperti insiden penusukan yang dilakukan siswa pelajar tidak terjadi lagi. Untuk itu perlu dukungan dari tenaga pengajar terutama guru agar dapat memberi akses kepada pihaknya untuk melakukan pendataan kesekolah yang dituju.

“Terkadang ada guru yang alergi dengan kami. Karena itu kami minta kerjasamanya agar bisa sama-sama mengawasi dan mencegah prilaku menyimpang anak-anak,” pungkasnya. Korankito.com/ria/depe