Astaga! 17 Guru Bercerai Sepanjang 2017

Kepala Disdik Sumsel. Widodo. foto/ejak

 

Penggugat terbanyak adalah guru perempuan

 

Palembang – KORKIT

Dari Januari hingga Oktober 2017, Dinas Pendidikan (Disdik) Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat ada 17 kasus perceraian guru dan masih ada beberapa berkas lagi untuk pengajuan perceraian tenaga pendidik berstatus Pegawai Neger Sipil (PNS) tersebut.

Kepala Disdik Sumsel Widodo menerangkan, sampai saat ini sudah ada 17 kasus perceraian guru dan masih ada beberapa yang sedang melakukan mediasi. Hampir dari semua kabupaten/kota di Sumsel ada kasus perceraian dengan rata-rata dua kasus.

“Hanya Kota Lubuklinggau, Musi Rawas dan PALI yang tidak ada kasus perceraian guru. Sedangkan untuk daerah tertinggi untuk kasus perceraian guru meliputi Prabumulih, Pagaralam dan OKU Raya dengan rata-rata tiga atau lebih kasus perceraian,” terangnya, Kamis (12/10).

Widodo sangat menyayangkan adanya kasus seperti ini, pasalnya, ia menilai hal ini sangat berpengaruh kepada kredibilitas guru yang bersangkutan. “Saya cukup kaget saat menerima laporan dari bidang kepegawaian dan sumber daya manusia (SDM) Disdik Sumsel. Namun mau bagaiana lagi kalau itu sudah kejadian. Danjuga itu masalah peribadi,” akunya.

Dikatakannya, dari data tersebut penggugat terbanyak ialah guru perempuan dengan berbagai alasan. Pihaknya pun hanya sebatas melakukan mediasi dan berupaya agar sang guru bisa berdamai. Makanya sebelum diberikan surat rekomendasi, proses mediasi ini gencar dilakukan.

“Paling banyak itu guru perempuan yang mengajukan gugatan. Kasusnya pun beragam, mulai dari pertengkaran, finansial, hingga selingkuh dengan atasan suaminya dan lain sebagainya,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kota Palembang Kemas Ar Pandji mengatakan, angka ini bellum termasuk besar jika dibandingkan dengan jumlah guru yang ada. Dan juga karena ini urusan rumah tangga, sehingga instansi tempatnya bekerja tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya.

“Kalau pun dibuat persentase dari jumlah guru SMA/K di Sumsel yang berjumlah sekitar 9500 an orang maka perbandingannya hanya 0,001 persen saja. Jadi sangat kecil dan tidak bisa dikatakan tinggi,” katanya. (korankito.com/ejak)