Dua Desa Perbatasan PALI-Muba Terendam Banjir

Kondisi desa perbatasan antara Kabupaten PALI dan Musi Banyuasin (MUBA) terendam banjir. Foto/cr1

PALI – Meskipun baru memasuki musim penghujan, namun curah hujan yang cukup tinggi sudah mulai mengguyur wilayah Bumi Serepat Serasan dalam satu pekan terakhir ini. Yang mana hujan dengan intensitas cukup tinggi dimulai dari tengah malam sampai pagi hari. Akibatnya dua desa perbatasan antara Kabupaten PALI dan Musi Banyuasin (MUBA) yakni Desa Talang Akar Kecamatan Talang Ubi Kabupaten PALI dan Desa Muara Dua Kecamatan Sungai Keruh Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) terendam banjir

Tak pelak puluhan rumah yang berada di pinggir Sungai Duo yang membentang membelah kedua desa tersebut terendam banjir. “Hujan akhir-akhir ini memang cukup tinggi intensitasnya, warga kami yang rumahnya dekat sungai kebanjiran. Ini diakibatkan pendangkalan sungai yang dinamakan wargaSungai Duo yang berimbas ketika hujan deras tiba, sungai tersebut tidak bisa menampung air hujan yang akhirnya meluap menggenangi rumah-rumah warga,” ungkap Heru Martin, Kepala Desa Talang Akar, Rabu (11/10).

Diakuinya, untuk di desanya, hanya ada 6 kepala keluarga yang terkena imbas langsung banjir kali ini. “Selain warga yang terendam rumahnya tidak bisa beraktivitas, warga lainnya juga mengalami hal sama, sebab warga yang kebanyakan berprofesi sebagai petani karet banyak yang libur, karena kebun karet warga juga terendam banjir,” imbuhnya.

Untuk mengantisipasi adanya kejadian yang sama, Heru berharap kepada Pemerintah Kabupaten PALI atau Kabupaten Muba untuk bisa melakukannormalisasi Sungai Duo yang saat ini mengalami pendangkalan.

“Baru tahun ini desa kami mengalami banjir di awal musim penghujan, padahal sebelumnya belum pernah terjadi, kalau pun terjadi, aliran air sungai cepat surut apabila hujan sudah berhenti. Kami sebagai wakil warga di pemerintahan meminta kepada Pemkab PALI atau Muba untuk segera menormalisasi sungai tersebut,” pintanya.

Terpisah, Sudirman, Kepala Desa Sungai Duo mengatakan bahwa desanya yang paling parah mengalami banjir.

“Aktivis warga di desa kami lumpuh total hari ini, ada ratusan rumah terutama di pinggir sungai dipastikan semuanya terendam, yang paling parah sekitar 50 rumah. Kedalaman air cukup tinggi sekitar 40-90 centimeter,” katanya.

Sementara itu, Junaidi Anuar, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten PALI menjelaskan, pihaknya terus memantau titik rawan banjir dengan mendirikan posko penanggulangan banjir. Yang mana untuk banjir di Desa Talang Akar, belum bisa dikategorikan bencana, sebab sifatnya hanya sebentar, dan debit air juga cepat surut.

“Kita sudah siapkan Posko penanggulangan bencana banjir, dan untuk saat ini posko tersebut kita pusatkan di halaman Kantor BPBD. Mengenaikeinginan warga yang meminta normalisasi sungai, kita akan sampaikan ke instansi terkait,” ucapnya.

Junaidi juga mengimbau kepada warga agar jangan membuang sampah ke sungai. Pasalnya penyebab banjir salah satunya bukan hanya oleh pendangkalan saja, melainkan aliran sungai banyak terdapat sampah.

Oleh sebab itu, kami imbau kepada seluruh warga Kabupaten PALI untuk menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah kedalam sungai,” ajaknya Korankito.com/cr1/ria