Widodo : SDM Dan IT Sama Pentingnya

Ilustrasi siswa menggunakan aplikaasi Quipper untuk belajar. foto/ejak

 

Sekolah harus mampu memfasilitasi jaringan agar siswa kenal internet

Palembang – Diera serba digital dan krisis ekonomi global saat ini membuat dilema dunia pendidikan. Pasalnya, dibutuhkan perangkat dan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni untuk mengimbangi lajunya perkembangan zaman, namun keterbatasan dana dan pelatihan masih menjadi masalah utamanya saat ini.

 

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sumatera Selatan (Sumsel) Widodo mengatakan, prioritas antara kuantitas perangkat informasi dan teknologi (IT) yang digunakan SDM (pelajar, guru) ataukah kualitas SDM pengguna IT-nya itu sama pentingnya. Sebab dengan jalannya kedua aspek tersebut dapat mempercepat perkembangan dunia pendidikan di Sumsel.

 

“Serentak, dua-duanya harus diupayakan agar percepatan yang berkualitas harus cepat Sumsel capai,” tegasnya saat dikonfirmasi Koran Kito melalui ponselnya, Ahad (24/9).

 

IT, lanjutnya, tidak harus secara fisik ada dan dimiliki sekolah. Namun kalo ada dan dilengkapi di sekolah, itu baik, akan tetapi saat ini yang diperlukan adalah melek dan memanfaatkan yang ada. “Misal bagaimana setiap kita bisa memaksimalkan gadget yang kita miliki (yang rata-rata sudah bisa 3G bahkan 4G) itu untuk kegiatan produktif khususnya belajar,” ujarnya memberikan contoh.

 

Oleh sebab itu Widodo mengimbau agar setiap sekolah untuk secara bertahap sesuai kemampuan yang ada untuk memasang wifi atau jaringan internet gratis agar dengan demikian anak-anak akan kenal internet, namun tetap harus dikontrol penggunaannya agar tidak disalah gunakan untuk mengakses konten yang tidak selayaknya.

 

“Sekolah setidaknya harus mampu memberikan akses internet gratis bagi siswanya. Sebab dengan adanya akses tersebut dapat memotivasi siswa untuk memaksimalkan kinerja perangkat yang ia punya. Tentu harus diawasi juga mengenai konten-konten yang dibukanya,” imbaunya.

 

Sebelumnya, Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Palembang, Rusdiana mengatakan, sudah sejak empat tahun silam pihaknya menggunakanaplikasi ‘Quipper” sebagai media pembelajaran online bagi siswanya. “Jadi kalau ada guru yang berhalangan hadir, dapat memberikan materi pelajaran dan tugas dari aplikasi tersebut,” katanya.

 

Penggunaannya pun mudah, ia menjelaskan, tiap siswa dan guru memiliki akunnya masing-masing sehingga hasil yang mereka kerjakan tidak bisa dicontek atau di-hack  oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. “Tiap kelas ada grup online untuk pembelajarannya masing-masing. Bahkan kalau ada yang kesulitan dalam pemahaman pembelajarannya, mereka dapat menghubungi guru bersangkutan, baik melalui aplikasi tersebut maupun secara personal dengan menggunakan gadgetnya,” terangnya. (korankito.com/ejak)