Gandeng Perguruan Tinggi, Lakukan Pendampingan di Lima Desa Rawan Karhutla

Pendatanganan Kerjasama Desa Mandiri Cegah Api Program Pencegahan Kebakaran Lahan Berbasis Desa Minamas Plantation dengan Universitas Sriwijaya. Foto/Amel.

Palembang – Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutlah) di wilayah Provinsi Sumatera Selatan terus digiatkan. Yang mana pencegahan diharapkan tidak hanya melibatkan pemerintah saja, melainkan dari stake holder lainnya seperti universitas, pengusaha dan masyarakat.

Hal ini yang ditunjukkan PT. Minamas Plantation selaku pelaku usaha di bidang perkebunan untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang setiap saat mengancam lahan yang ada di Sumsel. Dengan menggandeng Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang, PT Guthrie Pecconina Indonesia, yang merupakan anak perusahaan Minamas Plantation di Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan, memberdayakan 5 Desa, yaitu Desa Rantau Panjang, Desa Karang Ringin II, Desa Ulak Seberau dan Desa Karang Anyar di Kecamatan Lawang Wetan, serta Desa Gajah Mati di Kecamatan Sungai Keruh untuk memberikan pemahaman Karhutla sejak dini.

“Di sini kita melibatkan akademisi dan tim pendamping dari Universitas Sriwijaya,” ungkap Presiden Direktur PT. Minamas Gemilang, Haryanto Tedjawidjaja, usai Pendatanganan Kerjasama (MoU) Desa Mandiri Cegah Api Program Pencegahan Kebakaran Lahan Berbasis Desa Minamas Plantation dengan Universitas Sriwijaya, Rabu (13/9).

Haryanto menjelaskan, melalui program tersebut, pemahaman mengenai bahaya Karhutla akan dikenalkan sedini mungkin terutama kepada anak-anak. Diharapkan nantinya saat menjadi dewasa, akan mempunyai pemikiran mengenai tata kelola Iahan berkelanjutan dengan metode zero-burning yang menjadi pengetahuan mendasar.

“Dipilihnya lima desa ini berdasarkan tingginya tingkat hotspot yang di temukan. Nantinya setiap desa akan ada pendampingan selama enam bulan, memberikan pemahaman bagaimana cara membuka lahan dengan benar, ” jelasnya.

Haryanto menerangkan, program ini telah ada sebelumnya dan sudah bekerjasama dengan beberapa universitas lainnya di daerah yang rawan akan Karhutla. Diantaranya Universitas Lambung Mangkurat, dan Universitas Riau.

“Di tahun 2016, Minamas Plantation bekerjasama dengan Universitas Riau dan Universitas Lambung Mangkurat, mencakup area seluas 45.543 ha dengan populasi penduduk sebanyak 36.034 jiwa. Dari hasil survey yang dilakukan sebelum pendampingan menunjukkan bahwa sekitar 76.63% masih melakukan praktik tebang dan bakar. Setelah program pendampingan, kasus kebakaran terbukti berkurang dari 40 titik api pada tahun 2013-2014 menjadi 1 titik api di tahun 2015-2016,” bebernya.

Senada di sampaikan Asisten Deputi Tata Kelola Kehutanan Kemenko Bidang Perekonomian, Prabianto Mukti Wibowo menjelaskan, perlu ada pendekatan yang harus dilakukan bersama antara perusahaan yang berada di lokasi desa rawan kebakaran. Dengan mengoptimalkan program patroli terpadu, pemberdayaan ekonomi masyarakat desa, dan soliasisasi secara masif.

“Pencegahan Karhutlah harus melibatkan peran lintas perusahaan dan partisipasi masyarakat dalam tiap klaster pencegahan kebakaran, untuk mencegah kebakaran dan memadamkan api secara dini,” imbuhnya.

Sementara, Rektor Universitas Sriwijaya, Anis Saggaff menuturkan, pihaknya sangat mendukung kerjasama tersebut. Ia melihat Minamas Plantation merupakan mitra korporasi pertama dalam mengatasi masalah Karhutla.

“Apa yang di lakukan oleh Minamas Plantation ini dapat diikuti oleh perusahaan perkebunan lainnya. Silahkan manfaatkan. Kami siap membantu untuk rakyat, pemerintah dan Pengusaha,” harapnya.

Selain MoU, dalam kegiatan tersebut, Minamas Plantation juga memberikan bantuan alat pemadam kebakaran modern berupa motor pemadam kebakaran sebanyak empat unit yang dapat menjangkau ke desa-desa apabila terjadi Karhutla. (korankito.com/amel)