Waduh! Gas Subsidi Disinyalir Diselewengkan

Foto/dhia

LUBUKLINGGAU-Keberadaan gas elpiji 3 kilogram yang merupakan produk subsidi pemerintah bagi warga miskin dilapangan mulai langka.  Tak jarang keadaan ini menimbulkan konflik dilapangan kalau melon hijau yang diperuntukan bagi warga ekonomi menengah kebawah tersebut sengaja dijual keluar daerah.  Bahkan disinyalir 2000 tabung melon hijau sengaja disalurkan kewilayah Muba setiap minggunya.

Selain sulit didapat, harga jual elpiji 3 kilogram dimasyarakat tergolong tinggi dari kisaran Rp 25 ribu hingga Rp 27 ribu pertabung. Namun angka ini bisa dikatakan normal mengingat pangkalan harus membayar Rp 17.000 pertabung. Padahal harusnya produk subsidi tersebut dihargai Rp 14.800 dipangkalan pertabung.

Data didapat koran ini dilapangan gas elpiji 3 kg dipangkalan Lubuklinggau disinyalir dijual oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab keluar daerah Lubuklinggau.  Sehingga menyebabkan harga melon hijau melambung dan sulit didapat.

“Saya pernah lihat gas dari Linggau keluar daerah oleh salah satu oknum. Saya tidak tahu orang itu dari pihak agen mana,” ujar Santi, Warga Kecamatan Lubuklinggau Timur II, kemarin (8/9).

Untuk itu dirinya berharap pemerintah terkait  segera bertindak. Agar masyarakat, terutama masyarakat kecil tidak susah mendapatkan gas bersubsidi tersebut.

Sementara Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lubuklinggau, H Hidayat Zaini melalui Kasi Pengawasan, Zon Maryono menyarankan warga tidak membeli gas elpiji di pengecer, tetapi membeli ke pangkalan. Sebab, di pangkalan ada harga eceran tertinggi (Het) yakni Rp14.800 pertabungnya.

“Kalau pangkalan menjual lebih dari itu, laporkan saja. Biar bisa ditindak tegas. Tapi kalau pengecer tidak bisa. Kita tidak ada wewenang kearah sana. Wajar mahal dipengecer, itu banyak tahapannya. Dari pengecer, kepengecer lagi, jadi banyak tangannya,” ujar Zon.

Zon menambahkan masyarakat banyak takut membeli gas ke pangkalan, karena ada yang beralasan takut tak dilayani. Namun, seharusnya tidak begitu, malah membeli ke pankalanlah yang sangat dianjurkan. Karena, dipangkalan sudah terpampang jelas harganya.

“Kalau ada pangkalan tak mau melayani laporkan saja. Apalagi ada pangkalan yang menjual gas elpiji 3 kilo diatas harga HET, laporkan juga,” tegas dia.

Sementara Ketua Hiswana Migas Lubuklinggau, Winasta Ayuduri yang juga memiliki pangkalan gas  berkelit. Ia mengaku bahwa gas elpiji 3 kilogram miliknya tidak pernah diperdagangkan keluar daerah Lubuklinggau.

“Itu isu aja, saya yakin sekali tidak pernah dijual keluar daerah, untuk Lubuklinggau saja kurang bagaimana mau disalurkan keluar daerah,” kelitnya.

Wanita yang kerap disapa Wiwin tersebut menjelaskan kalau tingginya harga jual gas tidak terjadi dipangkalan namun di pengecer.

“Kalau pengecer kami tidak bertanggung jawab. Nah kalau ada oknum pangkalan yang nakal, kami siap berikan tindakan tegas, bukan hanya dijewer, tapi bakal kami habisi. Jadi warga beli gas di pangkalan saja, karena ada harga hetnya yakni Rp14.800,” tutupnya.(korankito.com/dhia/mbam)