Dinsos Mulai Sisir Keberadaan Manusia Gerobak

Foto/Nett

Palembang – Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang mulai melakukan penyisiran keberadaan “manusia gerobak” (untuk sebutan warga yang membawa gerobak beserta anggota keluarganya berkeliling kota Palembang). Pasalnya keberadaan manusia gerobak ini kerap di jumpai di jalan-jalan protokol seperti di Jalan Jenderal Sudirman pada malam hari.

“Dari penyisiran yang kita lakukan, Rabu malam (5/9) kemarin, kita berhasil menjaring lima keluarga yang sedang berkeliling Palembang dengan membawa gerobak,” ungkap Kepala Dinsos Kota Palembang, Heri Aprian, Kamis (7/9).

Menurut Heri, saat di mintai keterangan, manusia gerobak beserta keluarganya ini pekerjaannya yakni menjadi pemulung. Yang mana mereka tersebut kebanyakan berdomisili di pinggiran kota seperti di daerah Jakabaring dan Kertapati.

“Kita hanya bisa lakukan pembinaan kepada mereka agar tidak kembali melakukan aktifitas ini. Selanjutnya kita kembalikan ke rumahnya masing-masing. Selanjutnya apakah mereka ini akan diberikan lapangan pekerjaan ya kita tidak tahu, tapi ini akan kita pikirkan,” ujarnya.

Lebih lanjut tambahnya, waktu penyisiran di bagi menjadi tiga shif dalam 24 jam. Yang mana dalam satu shif terdiri dari 10 sampai 11 personil.

“Kedepan akan terus kita lakukan penyisiran lagi,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu warga Jalan Papera, Cek Tin mengatakan, ia sering sekali menemukan para “manusia gerobak” ini di jalan-jalan besar, seperti di kawasan Jenderal Sudirman. Dengan adanya ini, ia mengaku khawatir dan iba atas adanya pemandangan masyarakat Palembang yang seperti ini.

“Iba kita kan kalau melihat mereka ini, kadang kalau ketemu itu bawak anaknya yang masih kecil hingga malam hari sampe ketiduran di gerobak. Miris yah, mengingat Palembang yang sudah semakin maju tapi masyarakatnya masih ada yang seperti ini,” katanya.

Menurutnya, ada baiknya pemerintah lebih ekstra memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya. Dimana saat ini semakin sulitnya lapangan pekerjaaan, ditambah dengan pendidikan yang semakin sulit di dapatkan oleh masyarakat bawah.

“Lebih diperhatikan lagi, jangan cuman dilarang melakukan aktifitas ini. Seharusnya pemerintah juga menyediakan lapangan kerja untuk masyarakat seperti ini, harus ada alternatif. Pastinya mereka ini seperti ini karena demi kelangsungan hidup juga kan,” pungkasnya. (korankito.com/raya/amel)