Benarkah Bandar Kerajaan Sriwijaya Ada di OKI? (3)

Tim penelitian foto bersama dengan warga setempat. KORANKITO/IST

Kami pun berpamitan kepada Kusnaini untuk meneruskan perjalanan. Ringgu mengajak kami ke rumah Aliyung, seorang petani yang juga ikut mengais harta karun berharga sama seperti warga lainnya.

Namun, Aliyung tak seberuntung Qori. Ia hanya mendapat beberapa barang berharga saja. “Ini yang saya temukan,” ungkapnya sambil memperlihatkan kayu berbentuk dayung, satu keramik Cina bercorak naga, ayam jantan dan rusa.

Aliyung menceritakan benda-benda itu didapatnya dari Talang Petai, tiga hari yang lalu. Kayu berbentuk gayung, menurutnya ditemukan dalam kubangan lumpur “Waktu saya ambil beratnya mencapai 20 kg, namun anehnya sekarang tampak kering dan ringan begini,” tuturnya.

Guci dan Dayung yang berada di rumah Aliyung. KORANKITO/IST

Dirinya berharap pemerintah melalui Balai dapat menjaga lokasi penemuan benda-benda bersejarah ini dan meminta yang pihak berwajib turut mengamankan situs bersejarah yang diduga merupakan bekas pelabuhan Kerajaan Sriwijaya ini.

“Kami yang sudah tua-tua ini hanya bisa meninggalkan sejarah. Sejarah leluhur itu tidak ternilai harganya. Kami berharap pemerintah turun langsung menyelamatkan situs bersejarah ini,” harapnya.

Perjalanan kami pun akhirnya berakhir di rumah Aliyung dan kami pun memutuskan untuk pulang ke Kota Kayuagung, Kabupaten OKI, Sumsel.

Sementara itu, Bupati Ogan Komering Ilir Iskandar melalui Kasubbag Media Komunikasi Publik Adiyanto berharap pemerintah pusat dapat menetapkan Kawasan Teluk Cengal, yang diduga sebagai bandar kerajaam Sriwijaya tersebut, dijadikan sebagai cagar budaya dan pusat penelitian pariwisata, baik nasional maupun internasional.

“Tim (BPCB) Jambi telah melihat sendiri penemuan benda-benda peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Teluk Cengal pada Senin (4/9). Mereka (tim BPBC, red), segera melaporkan hasil investigasi kepada pimpinannya untuk diteruskan ke pemerintah pusat. Kedepan ada tim lain yang akan menindaklanjuti lokasi bandar Kerajaan Sriwijaya,” ungkapnya.

Menurutnya, masyarakat OKI menunggu arahan dari pemerintah pusat untuk menindaklanjuti agar ada perlindungan terhadap situs-situs di kawasan tersebut. Mengingat di lokasi tersebut banyak peninggalan arkeologis yang rusak dan hilang akibat kebakaran hutan dan lahan, penggalian liar, serta digunakannya lahan situs untuk perkebunan monokultur.

“Kami (Pemkab OKI)  siap jika kawasan Teluk Celuk dijadikan sebagai salah satu cagar budaya dan pusat penelitian pariwisata, baik nasional maupun internasional,” ungkapnya.

Ketua tim investigasi BPCB Jambi Novi Hari Putranto mengatakan, penemuan emas dan perunggu tersebut mengisyarakatkan bahwa benar ada pemukiman penduduk yang dulunya menempati wilayah Teluk Cengal.

“Setidaknya ada pemukiman bangsawan dahulunya di sini jika melihat hasil temuan ini. Kalau keramik itu dari luar, kalau gerabah itu dalam negeri. Ada jalur transaksi perdagangan di wilayah ini dahulu kala,” tutupnya. Korankito.com/endri/depe.