Benarkah Bandar Kerajaan Sriwijaya Ada di OKI? (1)

Warga sekitar saat mencari harta peninggalan kerajaan Sriwijaya. KORANKITO/IST

OKI- Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan yang besar di Asia, bahkan daerah kekuasaannya mencapai Malaka dan Hindia. Namun tak ada gading yang tak retak, Sriwijaya mengalami keruntuhan antara massa 1178 dan 1225.

Bukti adanya kerajaan Sriwijaya dengan ditemukan beberapa benda-benda bersejarah seperti prasasti Kedukan Bukit, prasasti Talang Tuo, Prasasti Kota Kapur dan masih banyak lainnya.

Baru-baru ini, warga kawasan Teluk Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan (Sumsel), dibuat gempar dengan adanya penemuan benda-benda bersejarah peninggalan kerajaan Sriwijaya oleh warga setempat.

Hal ini menimbulkan opini, benarkah bandar atau pelabuhan besar kerajaan Sriwijaya berada di Kabupaten OKI, Sumsel. Oleh karena itu, Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi bersama Pemerintah Kabupaten setempat mencoba menelusuri kebeneran itu.

Kami, tim BPCB Jambi yang berjumlah tiga orang yakni, Novi Hari Putranto, Tarida Diami, dan Muchlisin masih begitu kelelahan setelah menempuh perjalan selama enam jam dari Provinsi Jambi menuju Kota Kayuagung, Provinsi Sumsel.

Setibanya di kota Kayuagung, kami disambut oleh Kasubbag Media Komunikasi Publik Pemkab OKI Adiyanto, Kadin Pariwisata Ifna Nurlela, dan Kabid Kebudayaan Nila Maryati yang akan menemani dalam perjalan menuju lokasi penemuan benda sejarah.

Berangkat pukul 7.15 menuju Kecamatan Cengal, kami membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam untuk tiba ke lokasi. Waktu ini relatif lebih cepat seiring dengan diperbaikinya Jalan Sepucuk, sepanjang 38 KM yang menghubungkan Kayuagung dengan Pedamaran Timur.

Perjalanan kami, mulai terasa berat ketika melewati Jembatan Desa Kayulabu, Kecamatan Pedamaran Timur. Jalan bergelombang dan berdebu membuat perjalanan sedikit tidak nyaman, namun kami tetap terhibur dengan hamparan gambut yang mulai hijau rerumputan dan tanaman gelam.

Memasuki Kecamatan Cengal, perkebunan karet milik perusahaan dan warga setempat telah menyambut kedatangan kami. Hampir setiap dusun juga ditemukan rumah walet, yang dicat hitam dan ukuran jendela dan pintunya yang kecil. Korankito.com/endri/depe. Bersambung.