Mendikbud Canangkan 2 Raport, Widodo : Cari Yang Simpel Saja

Kadiknas Sumsel Widodo

Palembang – Adanya wacana kebijakan baru Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengenai pengeluaran dua raport untuk tiap siswa dipenghujung semester, nampaknya tidak mendapat dukungan penuh oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Sumatera Selatan (Sumsel).

Pasalnya, menurut Kepala Disdik Sumsel Widodo, raport dipecah menjadi dua itu hanya akan menambah beban administrasi sekolah dan juga banyak rentetan lain kalau itu benar dijalankan.

“Sekarang itu yang penting bagaimana pemerataan dan kualitas pendidikan yang ada. Buatla sesimpel-simpelnya agar tidak merepotkan administrasi. Namun kalau memang dicanangkan, ya maka sesuai prosedur, tetap akan saya jalankan,” katanya di ruang kerjanya, Rabu (6/9).

Opsi lainnya, lanjut Widodo, kalau memang ingin ada penilaian khusus antara karakter, akademik maupun non-akademiknya maka dapat memanfaatkan space yang ada di raport yang saat ini digunakan. “Tambah saja kolom penilaiannya, bila perlu rapatkan spasi antar penilaian. Jadinlebih simpel,” tegasnya.

Selain itu, ia menjelaskan Kemendikbud juga tidak bisa membuat kebijakan mengisi tambahan jam belajar siswa dengan ekstrakurikuler. Apalagi ekstrakurikuler itu dikaitkan dengan pendidikan karakter. Sebab banyak ekstrakurikuler yang muatan karakternya tidak dominan.

Sebelumnya, kebijakan setiap siswa terima dua buku rapor ini sudah disosialisasikan secara nasional oleh Kemendikbud. Mendikbud Muhadjir Effendy menuturkan, bahwa buku rapor untuk menilai ekstrakurikuler atau pendidikan karakter anak itu tidak serumit buku rapor akademik. Rapor tersebut cukup ada dua catatan saja sudah bagus. Misalnya catatan siswa bersangkutan pernah jadi ketua OSIS, dan itu menunjukkan memiliki karakter kepemimpinan. Muhadjir mengatakan teknis atau format buku rapor untuk menilai rekam jejak karakter siswa itu sedang dimatangkan oleh Balitbang Kemendikbud. (korankito.com/ejak)