Hingga Agustus, 495 Orang Pilih Bercerai

Kantor PA Kota Lubuklinggau. KORANKITO/DHIA

Lubuklinggau- Angka perceraian di Kota Lubuklinggau, Musirawas (Mura) dan Musirawas Utara (Muratara) relatif tinggi. Terhitung, sejak Januari hingga Agustus tercatat 495 kasus perceraian dan 136 kasus cerai talak.

“Berdasarkan data gugat cerai dari Januari sampai dengan Agustus, yang sudah dikabulkan berjumlah 495 orang, sedangkan untuk kasus cerai talak yang dikabul 136 orang,” ungkap Ketua Pengadilan Agama Kota Lubuklingga‎u Muchlis melalui Staf Hukum Maryanto, Rabu (23/8).

Tingginya  angka  gugat cerai  yang masuk disebabkan oleh banyak faktor, namun kebanyakan ‎di dominasi, faktor perselisihan karena tidak akur dengan pasangan dan permasalahan ekonomi.

“Namun ada juga yang disebabkan karena faktor ‎Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), yang memang tidak harmonis sejak awal. Bahkan ada juga yang sebulan menikah sudah cerai karena kasus perselingkuhan,” kata Maryanto.

Maryanto menjelaskan kasus gugat cerai dan talak cerai hampir merata terjadi di  tiga wilayah. Namun yang paling banyak datang dari Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Mura, sedangkan Kabupaten Muratara hanya sedikit.

Dalam sebulan kasus gugat cerai dan talak cerai yang masuk di PA Kota Lubuklinggau mencapai 100 perkara . Namun ‎setiap perkara perceraian yang masuk tidak serta merta langsung di kabulkan. Karena dalam peroses persidangan ada proses mediasi antara kedua belah pihak dengan mempertimbangkan berbagai faktor.

“Gugat cerai dan talak cerai yang kita kabulkan itu sudah melalui mekanisme yang panjang. Jika memang tidak bisa diselesaikan melalui jalur mediasi dan kedua belah pihak tetap ngotot cerai baru kita kabulkan,” ujarnya.

‎Selain itu, pada tahun 2017 ‎perkara dispensasi kawin (belum cukup umur) juga mengalami peningkatan. Sepanjang tahun ini dari tiga wilayah  sudah  20 orang mengajukan. Hal itu berbanding terbalik dari tahun 2016 lalu yang hanya satu orang.‎

“Dispensasi kawin artinya  rekomendasi sah secara agama, dan belum sah secara negara , karena disebabkan faktor usia yang belum masuk usia menikah, itu juga masuk dalam kategori pernikahan dini,”pungkasnya. Korankito.com/dhia/depe.