Pemkot Palembang Canangkan Kampung KB Tiap Kecamatan

Sekretaris DP3A-KB, Najib Pradedy saat diwawancarai diruang kerjanya, kantor DP3A-KB Kota Palembang, foto/Raya

Palembang – Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3A-KB) Pemkot Palembang hingga kini terus berupaya mengarahkan Pasangan Usia Subur (PUS) untuk menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Sekretaris DP3A-KB, Najib Pradedy menjelaskan, MKJP ini merupakan metode paling efektif dan aman dalam mencegah kehamilan dan menekan laju pertumbuhan penduduk.

“MKJP ini lebih efektif dibandingkan dengan pil atau suntik. Yang terdata dari bulan Januari hingga Juli ini peserta KB sekitar 74,79 persen dari jumlah 285.806 PUS yang ada. Sedangkan yang menggunakan MKJP sendiri baru sekitar 3.127 dari target 18.236 PUS di Palembang,” ungkapnya, Jum’at (18/8).

Menurut Najib, saat ini dalam penggunaannya MKJP sudah tersedia implan dalam bentuk satu batang sehingga lebih praktis. Implan itu lebih mudah dibandingkan dengan implan dua batang atau lebih.

“Rata-rata yang menggunakan MKJP itu ada 1.506 yang memakai implan, dimana untuk implan ini baru dibongkar 3 tahun dan bisa juga seumur hidup. Sementara untuk non MKJP suntikan baru tiga bulan itu sudah harus diganti, nah lambat suntik bisa jadi (hamil). Kami berharap semakin banyak masyarakat yang tertarik menggunakan MKJP, ditambah lagi ada metode implan yang hanya dipasang di lapisan kulit lengan tangan tanpa menyentuh rahim,” tuturnya.

Selain terus mensosialiasikan MKJP kepada masyarakat, DP3A-KB juga tengah fokus untuk menargetkan satu kecamatan satu kampung KB di Palembang. Menurut Najib, kampung KB ini baru pencanangan, di Kelurahan Karang Jaya, sebelumnya sudah dilaunching di Kecamatan Ilir Barat (IB) I beberapa bulan yang lalu.

“Harapan kita, untuk kampung KB bulan Agustus mendatang sudah terbentuk disetiap kecamatan, ini pembentukan awal,” imbuhnya.

Ia menerangkan, pembentukan kampung KB ini diprioritaskan kepada kawasan yang memiliki ciri-ciri diantaranya pemukiman padat penduduk, pinggiran sungai, jauh dari fasilitas kesehatan. “tidak ada prioritas kecamatan, tapi harus ada di setiap kecamatan. Sebab kawasan yang disebutkan ciri-cirinya itu pasti ada disetiap kecamatan,” ujarnya.

Bukan hanya meningkatkan peran serta masyarakat agar ber KB, lanjutnya, tujuan dibentuknya kampung KB ini juga untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Misalnya selama ini kawasan tersebut agak tertinggal dibanding kawasan lain diharapkan bisa lebih maju misal jalanan yang ada bisa lebih baik, ini juga sebagai bentuk penyetaraan agar masyarakat merasa kalau Indonesia ini milik bersama. Selama ini masih persiapan akhir Agustus, kita optimis ini selesai dengan kolaborasi bersama kelurahan,” pungkasnya.(korankito.com/raya/mbam)