37 Tahun Tak Upacara Kemerdekaan

Siswa SDN 197 berjejer menghormati bendera merah putih. Foto/ist

Palembang – KORKIT
Sejak berdiri pada tahun 1980 silam, siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 197 Palembang belum pernah melaksanakan upacara hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI) secara pribadi. Pasalnya, sekolah yang terletak di jalan Sungki Kertapati, Palembang ini berdiri di atas rawa-rawa dan tidak mempunyai lapangan upacara.

Tanpa adanya lapangan upacara ini tentu saja tidak membatasi rasa nasionalisme siswa SDN 197 Palembang. Benar saja, saat dikunjungi awak media, para siswa ini tengah sibuk berdiri berjejer di atas jalan setapak yang hanya selebar kurang lebih satu meter ini, hanya untuk menunjukkan rasa nasionalismenya dengan hormat kepada bendera merah putih yang berkibar di atas rawa.

Dengan keterbatasan mereka ini, diakui Kepala SDN 197 Palembang, Ermanoni bahwa selama ini memang pihaknya belum pernah melaksanakan upacara bendera secara pribadi.

“Biasanya kita ikut upacara di SDN 198 dan SMPN 36 yang kebetulan tak jauh dari SD kita. Itu pun hanya guru-gurunya saja. Dan juga tahun-tahun sebelumnya siswa kelas 6. Namanya juga hanya ikut jadi peserta, anak-anak tak pernah mencicip jadi petugas upacara,” ungkapnya.

Kendati demikian, lanjutnya, pihaknya tetap membekali anak-anak dengan ilmu dasar kebangsaan seperti Pancasila, UUD, bahkan sekedar latihan baris berbaris di jalan setapak cor layang lebar dua meter penghubung kelas.

“Ini beruntung saja musim kemarau jadi lahannya kering. Itu pun gak bisa kita pakai karena ditanami warga padi. Anak-anak tetap gak leluasa bermain karena takut menginjak padi milik warga. Sementara saat hujan air naik bahkan pernah sampai masuk lokal,” jelasnya.

Selain itu, ia menambahkan, dulu memang pernah ada perwakilan dari Dinas Pendidikan bahkan membawa orang Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk mengecek sekolah mereka. Bahkan anggota Dewan pun singgah dan lagi-lagi pihaknya hanya menerima rencana indah tanpa realisasi hingga sekarang.

“Sudah sering kami mengajukan untuk pembangunan lapangan sekolah. Namun sepertinya susah. Makanya sekarang lasrah saja. Yang penting gedung tempat anak belajar masih bagus,” pungkasnya. (korankito.com/ejak)