UIN Raden Fatah Dorong Mahasiswanya Selesai 8 Semester

Suasana pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan (PBAK) untuk mahasiswa baru UIN RF Palembang tahun ajaran 2017 di Academik Center, Senin (7/8). foto/ejak

 

Baru tiga tahun menjalankan UKT, UIN Raden Fatah Palembang berkaca dari pengalaman Unsri.

 

Palembang – KORKIT

Adanya polemik mengenai uang kuliah tunggal (UKT) semester sembilan di Universitas Sriwijaya (Unsri), menjadikan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah (RF) Palembang lebih mawas diri. Pasalnya, pihak UIN RF Palembang baru menjalankan sistem UKT selama tiga tahun terakhir.

 

UKT sendiri merupakan nama dari sebuah sistem pembayaran yang saat ini berlaku di seluruh perguruan tinggi negeri (PTN). Ketentuan ini berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) 55/2013 pasal 1 ayat 3, yakni setiap mahasiswa hanya membayar satu komponen saja (bernama UKT).

 

Fungsi UKT yakni untuk memberikan subsidi silang yang didasarkan pada kondisi ekonomi dan sosial orangtua/wali mahasiswa, sehingga setiap mahasiswa pembayaran UKT-nya tidak sama, semua bergantung pada kemampuan perekonomian keluarga.

 

Rektor UIN RF Palembang Muhammad Sirozi mengatakan, karena kita baru menjalankan UKT selama tiga tahun, jadi belum ada mahasiswa yang mencapai semester sembilan. Maka dari itu, pihaknya akan lebih mengevaluasi sistem pembayaran UKT. “Kita belajar dari pengalaman Unsri kali ini, sehingga tidak perlu ada aksi serupa (demo UKT). Jadi kita akan dorong mahasiswa kita selesai bila perlu tidak sampai delapan semester,” terangnya seusai pembukaan pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan (PBAK) untuk mahasiswa barunya tahun ajaran 2017 di Academik Center UIN RF Palembang, Senin (7/8).

 

Kepada dosen-dosennya, Sirozi mengimbau agar jangan menambah beban mahasiswa di luar beban akademiknya. Pihaknya meminta agar kegiatan akademik mahasiswanya lebih terprogram dengan sistematis. “Misalkan di kartu rencana studi (KRS) tertera KKL dan KKN, maka tidak perlu ditambah kegiatan magang. Cukup difokuskan dan diintensifkan saja program dan kegiatannya. Dan ini akan terus kita evaluasi hingga lebih maksimal,” ujarnya.

 

Ada Masalah Akademik

Sirozi menilai, adanya mahasiswa yang belum selesai hingga semester sembilan ini pasti ada masalah dalam sistem akademiknya. Pasalnya, semua rencana studi dan jadwal perkuliahan sudah tersusun secara sistematis.

 

“Untuk menyelesaikan skripsi kalau dikerjakan secara intens yang 50-60 halaman hanya memerlukan waktu tiga sampai enam bulan. Sedangkan orang menulis buku saja yang ratusan lembar bisa selesai kurang dari setahun. Ini kok bisa lebih dari setahun menyusun skripsi. Jelas ada yang salah pada sistemnya, entah itu mahasiswanya, dosennya atau hal krusial lainnya,” cetusnya.

 

Maka dari itu, Sirozi mengharapkan agar para mahasiswa yang tengah menjalankan studinya untuk dapat fokus dalam kuliah maupun kegiatan akademik lainnya. “jangan terlena dengan kegiatan di luar akademik. Sebab waktu itu tidak bisa diulang,” pungkasnya. (korankito.com/ejak)