Bisa Dipercaya

Demo UKT Unsri Berakhir Ricuh

Screenshot pengamanan aksi demo mahasiswa Unsri. foto/ist

 

Pemblokiran sistem akademik dan pelaporan tiga mahasiswa Unsri ke kepolisian, asal mula ribuan mahasiswa lakukan demo.

 

Palembang – KORKIT

Berita Sejenis

Kisah Anak Putus Sekolah Karena Biaya!

Dampak Gadget Bagi Pelajar

SFC ‘Galau’ Ikut Piala Presiden Atau Tidak

1 daripada 3.089

Tuntutan penurunan uang kuliah tunggal (UKT) semester sembilan di Universitas Sriwijaya (Unsri) yang dilancarkan oleh aliansi mahasiswa peduli UKT pada Kamis (3/8), berakhir ricuh. Ribuan mahasiswa yang menyambangi gedung rektorat Unsri dihadang oleh aparat kepolisian setempat.

 

Dari vidio amatir yang beredar di instagram, terlihat ada beberapa orang bahkan seorang petugas yang memakai seragam polisi memukul salah satu pendemo. Hal ini dilatari oleh aksi mahasiswa yang mencoba menerobos dan memecahkan kaca pintu rektorat.

 

Mengetahui kejadian tersebut, Presiden Mahasiswa (Presma) Unsri 2008/2009 yang sekarang menjabat sebagai staff DPD RI Febriansyah menyayangkan adanya kericuhan itu. Menurutnya, aksi demontrasi itu tidak sewajarnya berakhir ricuh.‎ Namun banyak hal-hal yang tidak bisa diprediksi yang terjadi di lapangan hingga mengakibatkan kerusuhan.

 

“Demo sebenarnya merupakan upaya terakhir untuk menyampaikan aspirasinya. Karena, sebelum melakukan aksi demo, ada beberapa tahapan yang harus dilalui seperti audiensi ataupun mediasi,” terangnya, Kamis (3/8).

 

Sementara ketika disinggung adanya masalah tiga mahasiswa yang diblokir sistem akademiknya setelah melakukan aksi demo serupa beberapa waktu lalu, Febri berpendapat, aksi mahasiswa kali ini merupakan hal yang wajar sebagai bentuk solidaritasnya. Namun sekali lagi ia menyayangkan dengan berakhirnya demo dengan kericuhan.

 

“Ini wajar, membentuk solidaritas sesama mahasiswa. Tidak pantas juga pihak rektorat memblokir sistem akademi mahasiswanya secara sepihak. Dan juga bukan suatu yang wajar juga, bila pihak rektorat melaporkan mahasiswanya ke polisi lantaran kasus seperti ini. Dan ini harus diluruskan,” tegasnya.

 

Selain itu, menurut data yang dimilikinya, UKT ini memang sering menjadi masalah dibeberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Febripun menganggap permintaan mahasiswa semester 9 yang meminta UKT-nya di turunkan sebesar 50 persen merupakan hal yang wajar, karena dibeberapa PTN memang menerapkan hal tersebut.

 

“Coba cek saja ya. Seperti di Universitas Lampung (Unila), anak-anak di semester sembilannya memang UKTnya dipotong 50 persen. Harusnya Unsri juga berkaca, kenapa yang lain bisa, Unsri tidak bisa, dan tetap bersikukuh,” pungkasnya. (korankito.com/ejak)