Terlibat Aksi Demo, Tiga Mahasiswa Unsri di Nonaktifkan

Ones Sinus Pangaribuan, salah seorang mahasiswa Unsri yang di nonaktifkan. Foto/Harry.

Indralaya – Diduga sebagai provokator dalam aksi demo dengan ratusan mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) lainnya, terkait kenaikan uang kuliah tunggal (UKT), tiga mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNSRI mendadak dinonaktifkan pihak Rektorat Unsri, Senin(31/7).

Adapun ketiga mahasiswa yang dinonaktifkan tersebut yakni Rahmat Fahrizal selaku Presiden Mahasiswa Unsri, Ones Sinus Pangaribuan, mahasiswa semester 9 Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisip) serta Aditia Arief Laksana mahasiswa semester 7 Fisip Unsri. Berdasarkan informasi demo yang berlangsung dua jam tersebut menolak biaya UKT yang dibebankan kepada mahasiswa semester 9 Unsri.
Ones Sinus Pangaribuan kepada wartawan mengatakan, dirinya merasa kecewa dan baru mengetahui status penonaktifan, saat hendak mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) melalui website resmi Sistem Informasi Akademik Unsri, Rabu malam (27/7) sekitar pukul 19.00. Ternyata, setelah berhasil “login”, sistem tersebut secara otomatis menampilkan pesan akun anda non aktif. Lalu, dibawah sistem bertuliskan Simak anda sedang dinonaktifkan karena diduga anda telah melanggar kode etik akademik pengujaran kebencian,
pelanggaran UU ITE dan pencemaran nama baik. Anda segera diminta menghadap kepala BAK,” tulis perintah dalam sistem Akademik Unsri.
“Saya tidak bisa masuk kedalam sistem untuk melakukan pengisian KRS Semester 9 namun hal itu dialami juga oleh Adititia dan Rahmat tanpa pemberitahuan terlebih dahulu secara resmi baik secara lisan maupun secara tertulis dari pihak Rektorat Unsri apabila sudah nonaktif sebagai mahasiswa Unsri. Kemungkinan kami dinonaktifkan karena telah mengerahkan massa pada saat demo,” katanya.
Masih katanya, ia mengakui bahwa pernah ada video yang dibuat BEM Unsri. Dalam video tersebut, Presma BEM Unsri beserta dirinya menolak pembayaran biaya UKT bagi mahasiswa Unsri semester 9. Video tersebut telah beredar dan menjadi konsumsi publik.
“Karena kami mahasiswa semester 9 menilai bila biaya UKT itu memberatkan. Di semester 9 kami harus membayar uang kuliah senilai Rp 2.5 juta. Itu sudah termasuk biaya UKT, tentu nilai semacam itu memberatkan kami bagi mahasiswa yang tergolong mahasiswa kurang mampu secara ekonomi,” katanya.

Menurutnya bila tidak ada upaya solusi dari pihak Rektorat terhadap status non aktifnya dari mahasiswa Unsri, ia mengancam akan menggelar aksi demo yang lebih besar lagi. Sementara itu, Kepala Bagian Administrasi Akademik Unsri, Junaidi, saat dikonfirmasi tidak berada di ruang kerjanya. “Bapak tidak ada pak, seluruh pimpinan lagi rapat di Palembang,”ujar Yok salah seorang staf humas Unsri. (korankito.com/harry/amel).