Kasus Beras Oplos di Lahat, Mabes Polri Turun Tangan

Kepala satgas pangan Mabes Polri sekaligus Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto, didampingi jajaran Polda Sumsel, saat melihat beras tak layak konsumsi menjadi sampel di Mapolda Sumsel, Jumat (28/7). KORANKITO/ADI

Palembang– Guna melihat kasus dugaan pengoplosan beras sejahtera (Rastra) yang diduga dilakukan oleh gudang Bulog Kabupaten Lahat, Kepala satgas pangan Mabes Polri sekaligus Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto mendatangi Polda Sumatera Selatan.

Ia mengatakan, timnya sengaja datang untuk meninjau langsung perkembangan kasus beras tak layak dikonsumsi di gudang bulog Kabupaten Lahat. Sementara dari hasil penggeledahan tim satgas pangan Polda Sumsel, saat ini sampel beras masih berada di laboratorium forensik untuk diteliti.

“Kalau memang layak untuk di konsumsi, kita akan rilis. Tapi kalau itu tidak layak konsumsi, mohon maaf proses hukum tetap kita lanjutkan,” katanya, usai gelar perkara di Mapolda Sumsel, Jumat (28/7).

Ia menjelaskan, kalau melihat beras contoh yang ada di Polda Sumsel memang keadaan beras tersebut sudah menguning dan pecah-pecah. “Walaupun demikian kami masih menunggu hasil laboratorium layak atau tidaknya,” ujarnya.

Beras pengadaan raskin dengan kualitas bagus tahun 2017 oleh Bulog dioplos dengan pengadaan 2016 yang kondisinya sudah dalam keadaan tidak layak konsumsi.

“Nanti dilihat perkembangannya, sekarang sudah lima orang diperiksa dari substansi (Bulog) dan tiga dari masyarakat. Kita tidak ada masalah politik dalam kasus ini. Kami dari satgas pangan polri profesional,” bebernya.

Sebelumnya, sebanyak 39,3 ton beras oplosan yang sudah tidak layak bercampur kutu diamankan Polda Sumatera Selatan digudang penyimpanan beras bulog di Kabupaten Lahat, Senin 24 Juli 2017.

Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengatakan, beras yang tidak layak didistribusikan ke masyarakat miskin tersebut, telah dioplos oleh oknum pekerja bulog dengan beras kualitas sedang.

“Setelah dioplos baru dibagikan ke warga. Ternyata ada warga yang tidak menerima dan dikembalikan lagi ke bulog karena sangat tidak layak dikonsumsi,” pungkasnya. Korankito.com/adi/depe.