Bisa Dipercaya

PT WM Bangkrut,  Areal Tambak Udang Jadi Kebun Tebu

Areal tambak udang PT Wahyuni Mandira yang beralih fungsi menjadi kebun tebu.ist

OKI-Ribuan petak tambak udang seluas 2.500 hingga 18.000 meterpersegi/tambak milik PT Wahyuni Mandira (WM) di Kecamatan Sungai Menang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), kini terbengkalai. Bahkan sebagian lahan beralih fungsi menjadi areal perkebunan tebu.

Perusahaan raksasa yang bergerak di bidang budidaya udang untuk mensuplai ke berbagai daerah dan ekspor ini diduga mengalami pailit. Sejak Januari lalu perusahaan ini tak lagi menambak.

Belum diketahui pasti penyebab perusahaan anak grup PT Central Protein Prima (CPP) tak lagi bertambak udang. Pastinya, kini di lapangan terlihat areal tambak sudah disulap menjadi kebun tebu untuk memasok bahan baku ke pabrik gula milik PT Pratama Nusantara Sakti (PNS).

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi OKI M Amin, Jumat (14/7), menjelaskan, sesuai kontrak kerja dan aturan yang berlaku, para buruh yang bekerja di tempat tersebut sebagian sudah tidak bekerja. “Hingga saat ini ada buruh yang mendapat pesangon, tapi ada juga yang tidak dan itu tidak disepakati oleh karyawan yang diberhentikan,” jelasnya.

Amin, membenarkan perusahaan tersebut dinyatakan bangkrut setelah dilakukan audit oleh pihak manajemen perusahaan dan tim audit independen. “Tidak ada pelanggaran yang terjadi,  karena hasil audit menyatakan bangkrut, ini murni terjadi dan dialami perusahaan, ” tegasnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, karyawan PT Wahyuni Mandira yang di-PHK sebanyak 1.300 orang.  PHK tersebut dilakukan dalam beberapa gelombang, Januari 2017 berjumlah 620 karyawan dengan pesangon bervariasi dari Rp60 juta-Rp100 juta yang dibayar cicil selama 6 bulan.

Gelombang kedua sekitar 680 karyawan yang kena PHK dengan besaran pesangon mulai dari Rp60 juta-Rp 120 juta dengan pembayaran yang dicicil hingga kurun waktu 24 bulan atau 2 tahun.

Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura OKI  H Syarifudin SP MSi menuturkan, sekitar 4,5 ribu hektar lahan eks areal tambak udang telah ditanami tebu  dan ditargetkan luasan ini mencapai 11 ribu hektar pada tahun 2019.

“Alih fungsi ini guna menyokong kebutuhan gula nasional sebesar 5,5 sampai 5,7 juta ton per tahun sehingga setiap 1 hektar dapat menghasilkan 80 ton tebu. Sementara, produksi gula nasional baru mencapai 2,8 juta ton per tahun. Artinya, Indonesia hanya bisa memenuhi 50 persen kebutuhan nasional,” pungkasnya.korankito.com/endri/drsd