Bisa Dipercaya

Asal Usul Bedug di Nusantara

Bedug yang berada di Mesjid Muhammad Cheng Ho Pasuruan foto/breaktime.co.id

Bedug adalah alat musik tabuh seperti gendang.
Bedug merupakan instrumen musik tradisional yang telah digunakan sejak ribuan tahun lalu, yang memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tradisional, baik dalam kegiatan ritual keagamaan maupun politik dan budaya.

Saat ini di Indonesia, bedug biasa dibunyikan untuk pemberitahuan mengenai waktu shalat atau sembahyang.

Bedug biasanya terbuat dari sepotong batang kayu besar atau pohon enau sepanjang kira-kira satu meter atau lebih.

Bagian tengah batang dilubangi sehingga berbentuk tabung besar.

Ujung batang yang berukuran lebih besar ditutup dengan kulit binatang (kerbau, sapi atau banteng) yang berfungsi sebagai membran atau selaput gendang.

Bila ditabuh, bedug menimbulkan suara berat, bernada khas, rendah, tetapi dapat terdengar sampai jarak yang cukup jauh.

Sejarah bedug
Jejak Laksamana Cheng Hoo di Indonesia bisa kita telusuri pada peninggalannya berupa masjid dengan arsitektur Tiongkok yang terletak di beberapa kota, seperti Palembang, Semarang, Surabaya, dan Pasuruan.

Beberapa literatur meyakini bedug tiba di bumi Nusantara seiring kedatangan Cheng Ho. Laksamana muslim Kaisar Ming itu menginginkan suara bedug di masjid-masjid, seperti halnya penggunaan alat serupa di kuil-kuil Budha di Cina.

Berita Sejenis

Terjawab! Status Hubungan Agnez Mo dan Chris Brown

Ratusan Gas “Melon” Dijual Murah

SMAN Sumsel Konsisten Dalam Pengabdian Masyarakat

1 daripada 3.087

Konon ketika Cheng Ho hendak pergi, dan hendak memberikan hadiah, raja dari Semarang mengatakan bahwa dirinya hanya ingin mendengarkan suara bedug dari masjid.

Sejak itulah, bedug kemudian menjadi bagian dari masjid, seperti di Negara Cina,Korea dan Jepang, yang memposisikan bedug di kuil-kuil sebagai alat komunikasi ritual keagamaan.

Namun, menurut studi M. Dwi Cahyono, arkeolog dari Universitas Negeri Malang, bedug terkait dengan masa prasejarah Indonesia di mana nenek moyang kita sudah mengenal nekara dan moko, sejenis genderang dari perunggu yang dipakai dalam minta hujan.

Kata Bedug juga sudah disinggung dalam Kidung Malat, sebuah karya sastra dari abad ke 14-16 Masehi. Dalam Kidung Malat dijelaskan bahwa bedug dibedakan antara bedug besar (teg-teg) dengan bedug ukuran biasa. Bedug pada masa itu berfungsi sebagai alat komunikasi dan penanda adanya perang, bencana alam atau hal mendesak lainnya. Dibunyikan pula untuk menandai tibanya waktu. Maka ada istilah Jawa yang mengatakan, “Wis wanci keteg.” (sudah waktu siang). Kata ”keteg” diambil dari saat teg-teg dibunyikan.

Dari uraian diatas, sebenarnya bedug bisa dikatakan contoh perwujudan akulturasi budaya waditra (instrumen musik membrafon) di mana secara fisiografis terjadi perpaduan antara waditra membrafon etnik Nusantara dengan wadistra sejenis dari luar, seperti India, Cina, dan Timur Tengah. Wallahua’lambissawab..(korankito.com/berbagaisumber/mbam)