Pertukaran Pelajar Sumsel ke Eropa Urung Berangkat Bulan Ini

Kepala Dinas Pendidikan Sumsel Widodo. Foto/ejak
Palembang – Wacana pertukaran pelajar dan guru ke Eropa yang dijadwalkan pada Juli ini mundur hingga September mendatang.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sumatera Selatan (Sumsel) Widodo mengaku, ada sedikit kemunduran jadwal keberangkatan siswa dan guru jenjang sekolah menengah atas dan kejuruan (SMA/K) di Sumsel ke Eropa yang sebelumnya dijadwalkan pada bulan Juli ini. “Sekolah di Perancis menghendaki September, karena disana Juli libur,” jelas Widodo saat dikonfirmasi oleh Koran Kito di ruang kerjanya, Rabu (7/6).
Total slot yang akan diberangkatkan nanti ada 28 orang, dimana 20 slot untuk siswa dan sisanya guru. “Semua sekolah yang berangkat kemarin mangajukan siswa dan gurunya, namun untuk Memorandum of Understanding (MoU) kemarin hanyabada 28 kursi. Jadi harapannya, di tahun berikutnya jumlah slotnya bertambah,” harapnya.
Untuk memenuhi kuota tersebut dari banyaknya yang mendaftar maka akan dilakukan seleksi. Menurutnya, yang akan menyeleksi guru dan siswa tersebut adalah lembaga SEA Molec yang merupakan mitra pemerintah yang menjembatani kerjasama di bidang pendidikan dengan sekolah maupun institusi pendidikan di luar negeri. Dan bagi yang berangkat akan mendapatkan sertifikat dari sekolah di Eropa dan SEA Molec.
“Karena slotnya hanya 28 orang, nanti mereka akan diseleksi oleh SEA Molec. Yang jelas selain kecakapan lokal wisdom, mereka nantinya diseleksi soal kesiapan mental dan mereka punya bekal budaya disana agar bisa mudah menyesuaikan diri dengan keadaan disana, termasuk menyiapkan diri agar tidak kehilangan jati dirinya,” paparnya.
Untuk waktunya, lanjutnya, antara satu hingga enam bulan “pilihannya itu sebulan, tiga bulan dan enam bulan. Tapi rekomendasi saya itu disana selama enam bulan biar lebih menguasai materi,” cetusnya.
Widodo menguraikan, ada beberapa kendala yang akan dihadapi siswa ketika melaksanakan pertukaran pelajar nantinya. Salah satunya mereka harus belajar dua materi sekaligus yakni, mata pelajaran sesuai sekolah asal (Indonesia) dan di sekolah tempat mereka menjalani program pertukaran pelajar (Eropa). Walau menambah beban belajar, akunya, namun dengan kapasitas mereka saat ini ia yakini mereka pasti mampu. Guru juga diarahkan memberikan materi yang ringkas dan rinci.
“Kendalanya disana mereka harus menjalankan dua mata pelajaran sekaligus, dimana tetap belajar kurikulum di Indonesia melalui media online dan disana. Ini imbas dari belumnya sekolah kita mengimplementasikan kurikulum internasional,” katanya. korankito.com/ejak.
AN